depresi tagged posts

Hematohidrosis: Bisakah Seseorang Berkeringat Darah? Apa Penyebabnya?

Hematohidrosis: Bisakah Seseorang Berkeringat Darah? Apa Penyebabnya?

Hematohidrosis adalah kondisi langka yang membuat seseorang mengeluarkan keringat darah. Selain keringat berdarah, orang dengan kondisi tersebut dapat mengeluarkan darah dari mata, hidung, dan selaput lendir lainnya. 

Jika umumnya orang normal mengeluarkan keringat dalam bentuk cairan bening yang sedikit asin karena mengandung sodium atau garam. Namun, orang dengan hematohidrosis bisa mengeluarkan keringat darah. Lalu apa sebenarnya penyebab seseorang mengalami keringat darah? Bagaimana bisa seseorang mengalami hal tersebut?

Apa itu hematohidrosis?

Hematidrosis atau yang juga dikenal sebagai hematohidrosis adalah fenomena yang sangat langka di mana seseorang berkeringat darah atau keluar keringat bercampur darah dari kulit. Sebagian penelitian menunjukkan bahwa stres dan reaksi sistem saraf yang tidak disengaja dapat menyebabkan keringat berdarah. Hematidrosis bukanlah kondisi medis, jadi pengobatannya difokuskan untuk menentukan penyebab yang mendasarinya. 

Fakta cepat tentang hematidrosis

  • Hematidrosis tetap menjadi misterius karena kejadian yang langka
  • Hematidrosis sangat jarang terjadi, sehingga penelitian tentangnya biasanya hanya berfokus pada satu kasus saja
  • Penelitian menunjukkan bahwa pembuluh darah kecil yang menyebabkan keringat berdarah lebih mungkin pecah di bawah tekanan yang intens. Stres bisa bersifat fisik, psikologis, atau keduanya
  • Perawatan tergantung pada penyebab yang mendasarinya

Apa penyebab hematidrosis?

Pendarahan terjadi ketika pembuluh darah kecil pecah. Beberapa pembuluh darah, termasuk yang berada di dekat kelenjar keringat dan di selaput lendir, berada lebih dekat ke permukaan kulit. Ini membuatnya lebih mungkin pecah. Hal ini juga menjelaskan mengapa hematidrosis lebih sering terjadi di dekat hidung, dahi, dan bagian tubuh lain yang terletak di dekat kelenjar keringat atau selaput lendir. 

  • Stres. Stres fisik dan psikologis diduga menyebabkan kondisi tersebut. Tingkat stres, gangguan kecemasan, dan kondisi mental lainnya. kondisi kesehatan mental telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir, namun hematidrosis tidak. Hal in menunjukkan bahwa faktor lain pun bisa menjadi penyebab. 
  • Riwayat hematidrosis. Orang dengan riwayat hematidrosis mungkin memiliki kelainan pada dermis, yaitu lapisan kulit di bawah lapisan luar. Cacar kulit hipotetis ini bisa memberi ruang bagi darah untuk menumpuk, sehingga memungkinkan keringat berarah.

Namun, tidak semua kasus berkeringat darah disebabkan oleh stres fisik atau emosional. Sebuah studi kasus tahun 2013 ada seorang gadis berusia 12 tahun dengan hematidrosis. Gadis tersebut tidak memiliki kelainan pendarahan, tidak ada kondisi medis lain yang jelas, dan tidak memiliki riwayat masalah psikologis atau stres. 

Kemudian dokter memberikan obat atropin, yang mana obat tersebut akan memblokir fungsi tertentu dari sistem saraf. Seiring berjalannya waktu, gejalanya mulai menurun dan gadis tersebut tidak mendapatkan perawatan lagi. Penyebabnya pun sampai sekarang tidak diketahui. 

Mungkinkah hematohidrosis berakibat fatal?

Keringat berdarah bisa sangat menakutkan. Bagi sebagian orang, bahkan anggapan bahwa mengeluarkan keringat darah bisa sangat menakutkan dan mengerikan. Namun, Anda tidak perlu khawatir karena hematidrosis biasanya tidak berbahaya. 

Darah yang berasal dari pembuluh darah kecil yang terletak di dekat permukaan kulit, bukan pembuluh darah atau arteri dalam. Hal ini membuat hampir tidak mungkin orang yang mengalami kondisi ini memiliki risiko kematian atau kehabisan darah. 

Bahkan orang yang mengalami ini bisa beberapa bagian tubuh dengan intensitas yang sedang hampir tidak memiliki risiko pendarahan hingga kematian, meskipun mereka mungkin mengalami pusing, kecemasan dan dehidrasi sedang. Karena hematidrosis melibatkan pencampuran darah dengan keringat, orang dengan sindrom ini mungkin tampak lebih banyak mengeluarkan darah daripada yang sebenarnya. 

Darah yang encer yang keluar tiba-tiba sering kali membuat penderita ketakutan dan mengira bahwa ada sesuatu yang tidak beres pada tubuhnya. Meskipun begitu hematohidrosis tidak terkait dengan atau gejala dari kondisi yang mengancam jiwa. Pendarahan biasanya berhenti dengan sendirinya dan bahkan tanpa pengobatan sama sekali, pun gejala dapat hilang dengan sendirinya. 

Jadi, jika Anda mengalami hematohidrosis untuk tidak panik dan kunjungi dokter untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut. Dokter akan memutuskan apakah Anda membutuhkan perawatan intensif atau hanya menggunakan obat-obatan saja.

Read More

Amankan Antidepresan Trisiklik untuk Mengobati Depresi?

Apakah Anda tahu bahwa untuk mengobati gangguan kesehatan mental membutuhkan obat khusus? Dalam dunia medis, obat khusus ini disebut dengan antidepresan yang terbagi menjadi beberapa kategori, salah satunya antidepresan trisiklik.

Antidepresan trisiklik (TCA) atau yang juga dikenal dengan antidepresan sering kali direkomendasikan untuk mengatasi masalah depresi. Ditemukan pertama kali pada tahun 1950-an, obat TCA menjadi salah satu antidepresan yang pertama kali ditemukan. Umumnya, dokter akan meresepkan obat ini jika tubuh pasien tidak menerima antidepresan dari kategori lain. Meskipun dianggap sebagai antidepresan yang efektif untuk mengobati depresi, TCA jarang direkomendasikan untuk menangani depresi lini pertama. Pasalnya, antidepresan trisiklik mengalami efek samping yang cukup serius.

Penggunaan antidepresan trisiklik (TCA) tidak hanya ditujukan untuk menangani depresi, namun juga beberapa kondisi gangguan kesehatan, seperti:

  • Migrain
  • Penyakit Parkinson
  • Rasa nyeri yang kronis
  • Gangguan obsesif-kompulsif
  • Gangguan kepanikan
  • Masalah kesehatan mental bipolar
  • Fibromyalgia
  • Gangguan stres pascatrauma
  • Adanya permasalahan pada pemusatan perhatian dan hiperaktivitas
  • Masalah kecemasan
  • Gangguan dismorfik tubuh

Apa saja jenis antidepresan trisiklik untuk mengobati depresi?

Secara umum, terdapat beberapa antidepresan trisiklik yang umumnya digunakan, yaitu:

  • Trimipramin
  • Protriptylin
  • Nortriptylin
  • Doksepin
  • Desipramin
  • Amoksapin
  • Amitriptylin
  • Maprotilin
  • Imipramin

Bagaimana cara kerja antidepresan trisiklik?

Cara kerja antidepresan trisiklik, yaitu dengan mempertahankan kadar serotonin dan norepinefrin yang ada dalam otak. Kedua senyawa ini berkaitan erat dengan perasaan bahagia dan berperan penting dalam menjaga suasana hati tetap dalam kondisi stabil. Menjaga keseimbangan kadar serotonin dan norepinefrin tadi, berguna untuk memperbaiki suasana hati pasien.

Meskpin begitu, antidepresan trisiklik juga memiliki efek samping yang perlu diwaspadai. Sebagai contoh, beberapa pasien mungkin akan mengalami pergerakan otot, termasuk otot di sekitar sistem pencernaan, secara tidak normal di luar kesadarannya. Diketahui juga, bahwa antidepresan trisiklik dapat menghambat efek histamin yang merupakan salah satu senyawa dari sistem imun tubuh.

Apa saja efek samping antidepresan trisiklik terhadap pasien?

Efek samping yang disebabkan oleh penggunaan antidepresan trisiklik akan berbeda-beda, tergantung pada jenis obatnya itu sendiri. Meskipun begitu, terdapat beberapa efek samping antidepresan trisilik yang telah diketahui:

  • Mual
  • Mulut kering
  • Adanya kenaikan berat badan, khususnya jika mengonsumsi jenis obat amitriptyline, imipramine, dan doksepin
  • Mengalami permasalahan penglihatan, seperti pandangan kabur
  • Tekanan darah rendah
  • Pusing atau sakit kepala
  • Adanya disfungsi seksual
  • Kelelahan
  • Retensi urin
  • Mengalami disorientasi, yaitu ketika seseorang tidak mampu untuk merespons terhadap apa yang terjadi di sekitarnya.
  • Sembelit
  • Kejang, khususnya untuk penggunaan obat maprotilin
  • Rasa kantuk

Apakah antidepresan trisiklik dapat dikonsumsi oleh setiap orang?

Bagi sebagian orang dengan kondisi kesehatan tertentu, seperti:

  • Masalah tiroid
  • Masalah pada jantung
  • Glaukoma sudut tertutup
  • Retensi urin
  • Pembesaran prostat

antidepresan trisiklik dapat memperparah permasalahan kesehatan tersebut. Selain itu, TCA juga diketahui dapat memengaruhi kadar gula darah. Penggunaan antidepresan trisiklik pada pasien diabetes perlu untuk diperhatikan secara khusus, termasuk lebih sering waspada terhadap kadar gula darah dalam tubuh. Selain itu, bagi ibu hamil dan menyusui, penggunaan antidepresan trisiklik perlu untuk didiskusikan dengan dokter terlebih dahulu agar tidak menimbulkan komplikasi kandungan yang membahayakan kesehatan janin dan sang ibu.

Read More