Category Penyakit

Macam-Macam Obat Diuretik dan Efek Sampingnya

Macam-Macam Obat Diuretik dan Efek Sampingnya

Obat diuretik adalah obat yang biasanya digunakan dengan jenis obat lain (terapi tambahan) pada kasus edema yang berhubungan dengan penyakit gagal jantung kongestif (CHF), sirosis hati, dan disfungsi ginjal. Simak lebih lanjut macam-macam obat diuretik dan efek samping yang mungkin ditimbulkannya.

Apa peran obat diuretik?

Obat diuretik, kadang-kadang disebut juga pil air, berperan membantu membersihkan tubuh dari garam (natrium dan klorida) dan air. Sebagian besar, obat ini membantu kerja ginjal melepaskan lebih banyak natrium ke dalam urin Anda. 

Mengapa harus natrium? Mineral ini sangat mudah mengikat air dari darah, akibatnya darah jadi lebih “kental” dan sulit mengalir melalui pembuluh darah, sehingga tekanan darah Anda pun meningkat. Inilah mengapa kelebihan natrium harus dibuang melalui urin.

Obat diuretik telah digunakan sebagai satu-satunya pengobatan hipertensi. Anda tidak perlu khawatir, karena obat ini dapat dikombinasikan dengan obat antihipertensi lainnya.

Selain itu, obat diuretik juga telah digunakan sebagai pengobatan tambahan untuk penyakit glaukoma sederhana kronis (sudut terbuka), glaukoma sekunder, dan diabetes insipidus.

Macam-macam obat diuretik

Ada 5 jenis obat diuretik yang memiliki perbedaannya masing-masing. Perbedaan utamanya terletak pada tingkat potensinya. Ini dipengaruhi oleh perbedaan tempat kerja diuretik di ginjal.

Diuretik loop

Jenis obat diuretik ini adalah diuretik paling manjur. Kenapa? Diuretik loop dapat meningkatkan pengeluaran natrium dan klorida dengan mencegah penyerapannya kembali ke dalam tubuh. Dikatakan sangat manjur karena tempat kerjanya yang unik, melibatkan loop (lengkung) Henle di ginjal, sehingga meningkatkan pengeluaran air dan garam melalui urin.

Beberapa contoh obat diuretik loop adalah:

  • Bumetanide.
  • Asam metakrilat.
  • Furosemide.
  • Torsemide.

Diuretik thiazide 

Dibandingkan dengan obat diuretik loop, diuretik tiazid meningkatkan pengeluaran natrium dan klorida melalui urin dalam jumlah yang setara. Obat ini bekerja dengan cara menghambat penyerapan kembali natrium dan klorida di tubulus distal di ginjal, sehingga produksi urin Anda jadi meningkat. Inilah mengapa diuretik thiazide efektif untuk menurunkan tekanan darah.

Beberapa contoh obat diuretik thiazide adalah:

  • Klorotiazid.
  • Chlorthalidone.
  • Hydrochlorothiazide.
  • Indapamide.
  • Metolazone.

Diuretik hemat kalium

Obat diuretik ini bekerja dengan cara mengurangi penyerapan kembali natrium di tubulus distal, sehingga menurunkan sekresi kalium. Bila digunakan sendiri, efek obat diuretik hemat kalium mungkin agak lemah. Oleh karena itu, obat ini sering dikombinasikan dengan diuretik thiazide dan loop.

Contoh obat diuretik hemat kalium, meliputi:

  • Amilorida.
  • Eplerenone.
  • Spironolakton.
  • Triamterene.

Penghambat karbonat anhidrase

Diuretik ini bekerja dengan cara meningkatkan pengeluaran natrium, kalium, bikarbonat, dan air dari tubulus renalis di ginjal. Contoh diuretik penghambat karbonat anhidrase adalah:

  • Injeksi acetazolamide.
  • Tablet acetazolamide.
  • Methazolamide.

Diuretik osmotik 

Obat diuretik osmotik bekerja dengan mencegah penyerapan kembali air, natrium, dan klorida oleh ginjal, sehingga jumlah cairan di dalam tubuh meningkat. Beberapa contoh diuretik osmotik adalah:

  • Gliserin.
  • Isosorbida.
  • Mannitol IV.
  • Urea.

Efek samping obat diuretik

Obat diuretik juga berpotensi menimbulkan efek samping, bergantung pada jenis obatnya dan kondisi tubuh penggunanya. Beberapa efek samping yang mungkin bisa terjadi seperti:

  • Mulut kering.
  • Haus.
  • Tubuh lemah, letih, dan lesu.
  • Mudah mengantuk.
  • Mudah gelisah.
  • Nyeri otot atau kram.
  • Kebingungan.
  • Kejang.
  • Kelelahan otot.
  • Hipotensi atau tekanan darah rendah.
  • Oliguria, yaitu produksi urin menurun atau bahkan tidak ada.
  • Takikardia, yaitu detak jantung cepat.
  • Terjadi gangguan gastrointestinal atau saluran pencernaan.

Dalam beberapa kasus, kadar natrium yang sangat rendah dalam tubuh akibat penggunaan diuretik thiazide telah dikaitkan dengan risiko kematian dan kerusakan saraf pada pasien usia lanjut. Selain itu, obat ini juga dikaitkan dengan peningkatan kadar asam urat yang dapat menyebabkan penyakit gout.

Silahkan Anda berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter terkait kondisi Anda saat ini. Dokter Anda akan memutuskan obat diuretik apa yang sesuai dengan kondisi kesehatan Anda. Selain itu, Anda bisa saja mengonsumsi satu atau lebih jenis obat diuretik untuk mendukung pemulihan tubuh dari penyakit Anda saat ini.

Read More

Hematohidrosis: Bisakah Seseorang Berkeringat Darah? Apa Penyebabnya?

Hematohidrosis: Bisakah Seseorang Berkeringat Darah? Apa Penyebabnya?

Hematohidrosis adalah kondisi langka yang membuat seseorang mengeluarkan keringat darah. Selain keringat berdarah, orang dengan kondisi tersebut dapat mengeluarkan darah dari mata, hidung, dan selaput lendir lainnya. 

Jika umumnya orang normal mengeluarkan keringat dalam bentuk cairan bening yang sedikit asin karena mengandung sodium atau garam. Namun, orang dengan hematohidrosis bisa mengeluarkan keringat darah. Lalu apa sebenarnya penyebab seseorang mengalami keringat darah? Bagaimana bisa seseorang mengalami hal tersebut?

Apa itu hematohidrosis?

Hematidrosis atau yang juga dikenal sebagai hematohidrosis adalah fenomena yang sangat langka di mana seseorang berkeringat darah atau keluar keringat bercampur darah dari kulit. Sebagian penelitian menunjukkan bahwa stres dan reaksi sistem saraf yang tidak disengaja dapat menyebabkan keringat berdarah. Hematidrosis bukanlah kondisi medis, jadi pengobatannya difokuskan untuk menentukan penyebab yang mendasarinya. 

Fakta cepat tentang hematidrosis

  • Hematidrosis tetap menjadi misterius karena kejadian yang langka
  • Hematidrosis sangat jarang terjadi, sehingga penelitian tentangnya biasanya hanya berfokus pada satu kasus saja
  • Penelitian menunjukkan bahwa pembuluh darah kecil yang menyebabkan keringat berdarah lebih mungkin pecah di bawah tekanan yang intens. Stres bisa bersifat fisik, psikologis, atau keduanya
  • Perawatan tergantung pada penyebab yang mendasarinya

Apa penyebab hematidrosis?

Pendarahan terjadi ketika pembuluh darah kecil pecah. Beberapa pembuluh darah, termasuk yang berada di dekat kelenjar keringat dan di selaput lendir, berada lebih dekat ke permukaan kulit. Ini membuatnya lebih mungkin pecah. Hal ini juga menjelaskan mengapa hematidrosis lebih sering terjadi di dekat hidung, dahi, dan bagian tubuh lain yang terletak di dekat kelenjar keringat atau selaput lendir. 

  • Stres. Stres fisik dan psikologis diduga menyebabkan kondisi tersebut. Tingkat stres, gangguan kecemasan, dan kondisi mental lainnya. kondisi kesehatan mental telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir, namun hematidrosis tidak. Hal in menunjukkan bahwa faktor lain pun bisa menjadi penyebab. 
  • Riwayat hematidrosis. Orang dengan riwayat hematidrosis mungkin memiliki kelainan pada dermis, yaitu lapisan kulit di bawah lapisan luar. Cacar kulit hipotetis ini bisa memberi ruang bagi darah untuk menumpuk, sehingga memungkinkan keringat berarah.

Namun, tidak semua kasus berkeringat darah disebabkan oleh stres fisik atau emosional. Sebuah studi kasus tahun 2013 ada seorang gadis berusia 12 tahun dengan hematidrosis. Gadis tersebut tidak memiliki kelainan pendarahan, tidak ada kondisi medis lain yang jelas, dan tidak memiliki riwayat masalah psikologis atau stres. 

Kemudian dokter memberikan obat atropin, yang mana obat tersebut akan memblokir fungsi tertentu dari sistem saraf. Seiring berjalannya waktu, gejalanya mulai menurun dan gadis tersebut tidak mendapatkan perawatan lagi. Penyebabnya pun sampai sekarang tidak diketahui. 

Mungkinkah hematohidrosis berakibat fatal?

Keringat berdarah bisa sangat menakutkan. Bagi sebagian orang, bahkan anggapan bahwa mengeluarkan keringat darah bisa sangat menakutkan dan mengerikan. Namun, Anda tidak perlu khawatir karena hematidrosis biasanya tidak berbahaya. 

Darah yang berasal dari pembuluh darah kecil yang terletak di dekat permukaan kulit, bukan pembuluh darah atau arteri dalam. Hal ini membuat hampir tidak mungkin orang yang mengalami kondisi ini memiliki risiko kematian atau kehabisan darah. 

Bahkan orang yang mengalami ini bisa beberapa bagian tubuh dengan intensitas yang sedang hampir tidak memiliki risiko pendarahan hingga kematian, meskipun mereka mungkin mengalami pusing, kecemasan dan dehidrasi sedang. Karena hematidrosis melibatkan pencampuran darah dengan keringat, orang dengan sindrom ini mungkin tampak lebih banyak mengeluarkan darah daripada yang sebenarnya. 

Darah yang encer yang keluar tiba-tiba sering kali membuat penderita ketakutan dan mengira bahwa ada sesuatu yang tidak beres pada tubuhnya. Meskipun begitu hematohidrosis tidak terkait dengan atau gejala dari kondisi yang mengancam jiwa. Pendarahan biasanya berhenti dengan sendirinya dan bahkan tanpa pengobatan sama sekali, pun gejala dapat hilang dengan sendirinya. 

Jadi, jika Anda mengalami hematohidrosis untuk tidak panik dan kunjungi dokter untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut. Dokter akan memutuskan apakah Anda membutuhkan perawatan intensif atau hanya menggunakan obat-obatan saja.

Read More

Apa Itu Hipoalbuminemia dan Apa Penyebabnya?

Hipoalbuminemia terjadi ketika Anda tidak memiliki cukup protein albumin di dalam aliran darah. Albumin merupakan sebuah protein yang dibuat di dalam hati. Albumin merupakan sebuah protein yang penting di plasma darah. Tergantung usia Anda, tubuh membutuhkan albumin sebesar 3,5 hingga 5,9 gram per decilitre. Tanpa cukup albumin, tubuh tidak dapat menjaga cairan agar tidak bocor keluar dari pembuluh darah. Tidak memiliki cukup albumin juga dapat mempersulit pergerakan zat-zat penting di seluruh tubuh.

Gejala

Albumin digunakan di seluruh tubuh. Hipoalbuminemia memiliki gejala seperti edema (penumpukan cairan) di kaki atau wajah, kulit yang terasa kasar dan kering dibandingkan dengan biasanya, rambut yang menipis, jaundice (kulit tanpak kuning), kesulitan bernapas, merasa lemah atau lelah, detak jantung yang tidak teratur, pertambahan berat badan yang tidak normal, tidak memiliki nafsu makan, diare, mual, dan muntah.

Gejala yang Anda rasakan akan sangat bergantung pada apa yang menyebabkan kondisi tersebut. Misalnya, apabila hipoalbuminemia disebabkan karena diet yang buruk, gejala akan muncul perlahan seiring berjalannya waktu. Di sisi lain, apabila hipoalbuminemia disebabkan karena luka bakar serius, gejala dapat dirasakan langsung. Kunjungi dokter apabila Anda mulai merasa lelah dan memiliki kesulitan bernapas tanpa ada peringatan apapun. Hipoalbuminemia juga dapat menunda pertumbuhan anak. Apabila Anda menyadari anak tidak tumbuh dan berkembang seperti anak lain seusianya, konsultasi dengan dokter dan memastikan apakah ia perlu mendapatkan pemeriksaan untuk hipoalbuminemia atau tidak.

Penyebab

Level albumin di bawah 3,4 gram per decilitre (g/dL) dianggap level yang rendah. Ada banyak gangguan kesehatan yang dapat menyebabkan hipoalbuminemia. Menentukan apa yang menyebabkan hipoalbuminemia sangat penting untuk menemukan perawatan yang efektif untuk kondisi Anda. Adapun beberapa penyebab hipoalbuminemia di antaranya adalah:

  • Kegagalan hati. Hati memproduksi albumin. Sehingga tes albumin biasanya merupakan bagian dari pemeriksaan fungsi hati. Banyak penyakit dapat menyebabkan kegagalan hati, seperti sirosis, kanker hati, hepatitis, penyakit hati yang berhubungan dengan alkohol, dan penyakit hati berlemak.
  • Gagal jantung. Beberapa orang dengan gagal jantung akut dapat memiliki level albumin yang rendah, meskipun alasan mengapa hal ini terjadi masih belum diketahui.
  • Kerusakan ginjal. Adanya masalah dengan ginjal dapat menyebabkan ginjal membuang protein dalam jumlah besar melalui urin. Albumin akan diambil dari darah, untuk kemudian menyebabkan hipoalbuminemia.
  • Enteropathy kehilangan protein. Beberapa kondisi gangguan lambung dan gastrointestinal, seperti penyakit seliak dan penyakit radang usus, dapat menyebabkan sistem pencernaan kehilangan banyak protein. Kondisi ini menyebabkan sebuah sindrom yang bernama enteropathy kehilangan protein yang dapat menyebabkan rendahnya level albumin.
  • Malnutrisi. Seseorang dapat menderita hipoalbuminemia ketika mereka tidak mendapatkan asupan nutrisi yang cukup, atau memiliki kondisi medis yang membuat tubuh kesulitan dalam menyerap nutrisi. Selain itu, beberapa orang yang sedang mendapatkan chemotherapy dapat kekurangan nutrisi.

Selain itu, meskipun jarang terjadi, seseorang dapat menderita hipoalbuminemia sebagai hasil akibat luka bakar serius, infeksi darah yang disebut dengan istilah sepsis, reaksi alergi, lupus, hypothyroidism, dan diabetes.

Apabila tidak diobati, hipoalbuminemia dapat memperburuk efek dari penyakit lain. Menurut sebuah studi yang dilakukan pada tahun 2015, ditemukan bahwa penyakit paru obstruktif kronis (COPD) dan hipoalbuminemia dapat meningkatkan risiko kegagalan pernapasan. Komplikasi lain di antaranya adalah penumpukan cairan di paru-paru dan lambung, pneumonia, dan kerusakan otot. hipoalbuminemia juga dapat menurunkan keefektifan beberapa obat-obatan yang dapat mengikat albumin.

Read More

Mengenal Gangguan Pendengaran Auditory Processing Disorder

Mengenal Gangguan Pendengaran Auditory Processing Disorder

Auditory processing disorder, atau disingkat APD, merupakan kondisi pendengaran di mana otak mengalami kesulitan dalam memproses suara. Hal ini akan memengaruhi bagaimana Anda memahami percakapan atau suara lain di sekitar Anda. Misalnya, pertanyaan “apa warna sofa?” dapat terdengar seperti “apa karena soda?”. Meskipun APD dapat terjadi pada siapa saja dan usia berapapun, gejala biasanya akan berawal pada masa kanak-kanak. Anak mungkin akan terlihat dapat mendengar dengan “normal”, namun kenyataannya mereka memiliki kesulitan dalam menafsirkan dan menggunakan suara dengan benar. Artikel ini akan membahas tentang hal-hal seputar auditory processing disorder yang perlu Anda ketahui. 

Mengapa auditory processing disorder terjadi?

Mendengar merupakan sebuah proses yang kompleks. Gelombang suara dari lingkungan di sekitar kita masuk ke dalam telinga di mana gelombang tersebut diubah menjadi getaran di dalam telinga tengah. Ketika getaran mencapai telinga dalam, beragam sel sensorik menciptakan sinyal listrik yang berjalan melalui saraf auditori ke otak. Di otak, sinyal tersebut dianalisis dan diproses menjadi sebuah suara yang Anda kenal. 

Orang-orang dengan auditory processing disorder memiliki masalah dengan langkah pemrosesan tersebut. Oleh karena hal tersebut, mereka memiliki kesulitan dalam memahami dan merespon suara yang ada di lingkungan sekitar mereka. Penting untuk diketahui bahwa APD merupakan sebuah gangguan pendengaran. Kondisi ini bukanlah hasil komplikasi dari kondisi lain yang mungkin dapat memengaruhi pemahaman dan perhatian Anda, misalnya gangguan spektrum autisme (ASD) atau gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (ADHD). Namun, dalam kasus-kasus tertentu, APD dapat terjadi berbarengan dengan salah satu atau kedua kondisi tersebut. 

Gejala yang patut diwaspadai

Gejala-gejala auditory processing disorder yang patut diperhatikan di antaranya adalah kesulitan memahami percakapan (terutama di lingkungan yang bising atau ada lebih dari satu orang yang sedang berbicara), sering meminta orang lain mengulang apa yang mereka katakan, salah memahami apa yang telah dikatakan, membutuhkan waktu respon yang lebih lama saat berbicara, kesulitan mengetahui dari mana suara berasal, kesulitan membedakan suara yang mirip, kesulitan berkonsentrasi dan memberi perhatian, kesulitan mengikuti pembicaraan yang cepat dan arahan yang rumit, dan kesulitan belajar dan menikmati musik. 

Oleh karena gejala tersebut, mereka yang memiliki APD terlihat memiliki kesulitan dalam mendengar. Akan tetapi, karena gangguan ini melibatkan pemrosesan suara, tes sering menunjukkan kemampuan mendengar mereka terlihat normal. Karena orang-orang dengan APD memiliki masalah dalam memproses dan memahami suara, orang-orang dengan APD sering memiliki masalah dalam aktivitas pembelajaran, terutama jenis pembelajaran yang dipaparkan secara verbal. 

APD dan dyslexia, apa bedanya?

Dyslexia merupakan salah satu gangguan pembelajaran yang dikarakterisasikan dengan memiliki kesulitan dalam membaca. Gangguan tersebut umumnya berupa kesulitan dalam mengidentifikasi kata, memasangkan bunyi suatu kata dengan huruf atau kata yang tepat, memahami apa yang sedang dibaca, dan mengutarakan kata dan kalimat tertulis. Dyslexia mirip dengan auditory processing disorder dalam bentuk orang-orang dengan dyslexia memiliki kesulitan dalam memproses informasi. Namun, alih-alih memengaruhi bagian otak yang memproses suara, dyslexia memengaruhi bagian otak yang memproses bahasa. Sama halnya dengan APD, orang-orang dengan dyslexia juga memiliki kesulitan dalam aktivitas pembelajaran, terutama aktivitas yang melibatkan membaca, menulis, dan mengeja. 

Belum jelas diketahui apa yang menyebabkan auditory processing disorder. Namun, beberapa faktor seperti gangguan perkembangan, kerusakan saraf, dan genetik diidentifikasi memainkan peran dalam kondisi tersebut.

Read More

Nyeri Tulang Belakang Dapat Disebabkan karena Desikasi Disk

Hernia nucleus pulposus membuat Anda mengalami nyeri punggung

Tulang punggung Anda terdiri dari tumpukan tulang yang disebut vertebra. Di antara setiap vertebra, terdapat disk yang kuat dan kenyal yang bertindak sebagai peredam kejut. Setelah beberapa lama, disk tersebut kemudian akan aus karena sebuah bagian dari proses yang bernama penyakit disk degeneratif. Desekasi disk merupakan salah satu fitur paling umum dijumpai pada penyakit disk degeneratif. Kondisi ini berupa dehidrasi pada disk. Pada kondisi normal, disk vertebra Anda penuh cairan, yang membuatnya tetap fleksibel dan kuat. Semakin Anda bertambah tua, disk akan secara perlahan kehilang cairan tersebut, untuk kemudian diganti dengan fibrocartilage, jaringan berserat yang kuat yang membuat bagian luar disk. Salah satu tanda Anda menderita desikasi disk adalah adanya nyeri tulang belakang. 

Penyebab dan gejala

Salah satu gejala pertama adanya desikasi disk adalah punggung terasa kaku. Anda juga bisa merasakan nyeri tulang belakang, kelemahan, dan adanya sensasi kesemutan di punggung. Tergantung bagian disk mana yang terkena kondisi ini, Anda juga bisa menderita mati rasa pada bagian punggung bawah. Dalam kasus-kasus tertentu, rasa sakit dan mati rasa akan menjalar dari punggung ke bawah ke kedua kaki. Anda juga akan merasakan adanya perubahan pada refleks lutut dan kaki. 

Desikasi disk umumnya disebabkan karena keausan atau adanya robekan pada tulang belakang, yang mana dapat terjadi secara alami ketika seseorang bertambah tua. Beberapa hal lain yang dapat menyebabkan desikasi disk di antaranya adalah:

  1. Trauma akibat kecelakaan mobil, terjatuh, ataupun cidera olahraga
  2. Ketegangan yang berulang pada punggung, terutama setelah mengangkat benda-benda yang berat
  3. Turunnya berat badan dengan tiba-tiba, yang menyebabkan tubuh (termasuk disk) kehilangan banyak cairan

Diagnosa dan perawatan

Untuk mendiagnosa kondisi ini, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik. Mereka akan meminta Anda untuk melakukan beberapa gerakan tertentu dan melihat apakah gerakan tersebut menyebabkan rasa sakit. Hal ini juga dapat membantu dokter untuk mengetahui bagian disk mana yang terdampak. Selanjutnya, Anda akan menjalani pemindaian sinar-X, CT, ataupun MRI agar dokter dapat melihat dengan jelas kondisi vertebra dan disk. Disk yang dehidrasi umumnya akan tampak lebih kurus dengan bentuk yang tidak konsisten. Gambar hasil pemindaian juga akan menunjukkan kondisi-kondisi lain yang dapat menyebabkan nyeri tulang belakang, misalnya karena disk yang pecah atau terherniasi. 

Jika gejala desikasi disk ringan, dokter akan merekomendasikan pasien untuk menjaga berat badan, mempraktikkan postur tubuh yang baik, dan menhindari pemicu utama nyeri tulang belakang (misalnya mengangkat benda-benda yang berat). Namun, apabila gejala yang dirasakan lebih parah, beberapa pilihan perawatan di antaranya adalah:

  1. Obat-obatan penghilang rasa sakit seperti obat anti-peradangan non-steorid (NSAID) seperti ibuprofen dan naproxen dapat membantu mengurangi rasa sakit. 
  2. Terapi pijat, untuk membuat otot di sekitar vertebra yang terdampak menjadi relaks dapat membantu meredakan tekanan yang sakit
  3. Terapi fisik. Terapis ahli akan mengajari Anda bagaimana cara memperkuat otot inti yang mendukung tulang belakang dan menghilangkan tekanan di punggung. Mereka juga dapat membantu Anda memperbaiki postur tubuh dan merekomendasikan strategi khusus untuk menghindari gerakan-gerakan yang dapat memicu terjadinya gejala desikasi disk. 

Desikasi disk bukanlah sesuatu yang bisa dicegah. Namun, Anda bisa mengatasi gejala yang ditimbulkan, misalnya nyeri tulang belakang dengan mengunjungi dokter dan mendapatkan rencana perawatan khusus. Beberapa hal yang bisa dilakukan di antaranya adalah dengan kombinasi antara obat, terapi fisik, dan latihan.

Read More

Hindari Stres agar Tak Terserang Iskemia Jantung

Jantung adalah organ vital manusia. Keberadaannya di dalam tubuh manusia memungkinkan terjadinya sirkulasi darah, dan selanjutnya termasuk oksigen pula. Namun, jantung merupakan organ yang mudah terserang penyakit, salah satunya iskemia.

Iskemia berkaitan dengan sitem aliran darah. Jantung yang terkena iskemia sangat mungkin tak mendapat pasokan atau suplai darah. Penyebab utamanya adalah sumbatan pada pembuluh darah arteri koroner yang menyuplai oksigen untuk otot jantung. Namun, tahukah Anda jika iskemia jantung juga bisa dipicu oleh stres?

Beberapa penilitian yang digelar oleh tenaga medis didapatkan kenyataan bahwa stres dapat membahayakan setidaknya 70% orang dengan penyakit jantung. Artinya, tujuh dari 10 orang yang memiliki penyakit jantung dapat mengalami episode aliran darah yang tidak memadai ke jantung ketika mereka mengalami stres.

Dalam dunia medis, iskemia jantung atau biasa disebut iskemia miokardium, yang dipicu oleh stres adalah iskemia tekanan mental. Stres, baik emosional maupun mental, bekerja dengan cara yang sama seperti aliran darah yang tidak memadai yang disebabkan oleh stres fisik. Hal ini juga kemungkinan dapat memicu serangan jantung.

Seorang profesor kedokteran di Harvard Medical School dan Brigham and Women’s Hospital, Dr. Peter Stone, menjelaskan bahwa efek fisiologis dari tekanan mental membuat jantung membutuhkan lebih banyak oksigen, akan tetapi karena arteri tersumbat, maka jantung tidak mendapatkannya. Kondisi itulah yang memungkinkan iskemia miokardium atau iskemia jantung terjadi.

Selain itu, tekanan emosional atau mental juga dapat menyebabkan vasokonstriksi atau kondisi di mana arteri koroner mengalami sedikit kejang dan tidak memberikan aliran darah yang cukup ke otot jantung.

  • Waspada! Iskemia Jantung Merupakan Silent Killer

Jantung yang tidak mendapat pasokan darah dan/atau okesigen yang cukup akan menyebabkan kematian sel otot jantung dan berujung pada serangan jantung. Selain itu, iskemia jantung juga dapat menyebabkan gangguan irama jantung yang akan memengaruhi pompa jantung. Jika pompa jantung menjadi tidak normal, maka darah tidak dapat mengalir dengan normal ke seluruh tubuh. Keadaan ini disebut gagal jantung.

Masalahnya, iskemia jantung yang dipicu oleh stres ini berpotensi besar menyebabkan kondisi berbahaya dan kritis secara tiba-tiba. Pasalnya, banyak orang yang tidak sadar bahwa mereka tengah diintai oleh sebuah bahaya. Hal ini berkaitan dengan tidak ada gejala atau perasaan khusus yang mungkin bisa menjadi tanda.

Sebagai contoh, jika saat berolahraga dan seseorang merasakan seseuatu yang tidak nyaman di dada, mereka biasanya tahu bahwa sedang ada yang tidak beres dan biasanya mereka akan memperlambat (olahraga) dan berhenti. Berbeda dengan stres yang tidak mendapatkan gejala yang dapat menyuruh seseorang untuk berhenti.

Jika seseorang dengan penyakit arteri koroner mengalami tekanan emosional sehingga menyebabkan orang tersebut stres, maka bisa jadi orang tersebut kemungkinan bersar mengalami iskemia miokardium.

Meski begitu, ketika kondisi tersebut benar-benar terjadi, ada beberapa tanda umum yang bisa dijadikan sebagai peringatan, yakni tekanan atau nyeri pada dada, biasanya di sisi kiri tubuh (angina pectoris).

Kondisi-kondisi seperti nyeri leher atau rahang, nyeri bahu atau lengan, jantung berdetak cepat, napas pendek, mual hingga muntah, berkeringat, hingga merasakan kelelahan yang amat sangat, itu juga bisa menandakan bahwa seseorang kemungkinan menderita iskemia jantung/

Jika seseorang mengalami gejala iskemia jantung atau miokardium yang berlangsung selama lebih dari 5 menit, segera hubungi dokter. Karena, seseorang mungkin akan mengalami serangan jantung dan berujung pada situasi yang gawat.

Read More

Meski Terdengar Sama, Bronkiektasis dan Bronkitis Amat Berbeda

Pelebaran dan penebalan pada bronkus (bronkiektasis) dapat mengakibatkan penyumbatan saluran napas.

Masalah yang terjadi di saluran pernapasan manusia begitu beragam. Ada banyak jenis dan macamnya. Namun, satu yang pasti hampir semuanya bisa membuat penderitanya tak dapat hidup dengan tenang. Seperti contohnya mereka yang menderita bronkiektasis dan bronkitis.

Sebenarnya apa sih bronkiektasis dan bronkitis tersebut? Mengapa bisa dikatakan orang yang mengidap penyakit tersebut amat menderita? Dan apakah keduanya sama atau justru berbeda? Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan dijawab di artikel ini.

  • Yang Perlu Diketahui Terkait Bronkitis

Bronkitis adalah penyakit yang terjadi ketika terdapat peradangan di saluran pernapasan, utamanya trakea (batang tenggorokan) dan bronkus. Bronkitis dimulai dengan batuk, lalu menghasilkan dahak. Sering juga penderita bronkitis merasakan sakit di dada, sesak, hingga memicu dispnea. 

Umunya, salah satu gangguan pernapasan ini terjadi hasil dari infeksi virus, terutama yang terkait dengan influenza tipe A dan B, serta rhinovirus. Ada jenis virus lain yang juga dapat menyebabkan bronkitis, termasuk parainfluenza dan coronavirus. 

Kebiasaan seperti merokok dapat meningkatkan kemungkinan terserang bronkitis karena dapat memiliki penyakit fibrosis kistik. Selain itu, memiliki beberapa jenis penyakit seperti influenza atau cystic fibrosis adalah faktor risiko untuk mendapatkan bronkitis seperti halnya para perokok

Seorang dokter dapat mendiagnosis bronkitis pada seseorang dengan melakukan pemeriksaan fisik dan mencatat gejalanya. Mendengarkan dada dan melakukan rontgen dada juga membantu mendapatkan gambaran pasti mengenai kondisi seseorang.

Umumnya, kondisi ini diobati secara simtomatis dengan obat penghilang rasa sakit dan obat bronkodilator seperti albuterol yang membantu mengatasinya. Kondisi biasanya berlangsung selama lebih dari seminggu dan bahkan mungkin memakan waktu hingga 21 hari bagi seseorang untuk sembuh dari bronkitis. Bronkitis akut pada akhirnya dapat menyebabkan pneumonia jika tidak diobati.

  • Mengenal Bronkiektasis

Mungkin istilah dari salah satu penyakit pernapasan ini tidak sepopuler bronkitis. Bronkiektasis dapat dipahami sebagai kondisi di mana saluran napas yang bernama bronkus rusak. Kerusakan itu memicu pertumbuhan bakteri dan lendir yang pada tahap selanjutnya akan menyebabkan infeksi.

Penderita bronkiektasis akan merasakan batuk menerus disertai dengan dahak. Banyak penderita bronkiektasis yang juga mengalami kesulitan bernapas dan menderita demam. Penyakit ini dapat disebabkan oleh aspergillosis bronkopulmonalis alergi, fibrosis kistik, dan masalah dengan silia dan penyakit jaringan ikat. Dalam beberapa kasus bronkiektasis fokal, penyebabnya diduga pneumonia.

Kondisi ini dapat terjadi pada satu atau beberapa tempat di paru-paru, atau bahkan menyerang seluruh bagian paru-paru. Dokter biasanya akan melakukan CT Scan untuk mendapat gambaran diagnosis yang akurat.

Bronkiektasis yang tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan kematian. Oleh karenanya, setelah mendapat diagnosis, dokter akan langsung meresepkan beberapa obat untuk membantu tubuh melawan masalah tersebut.

  • Beberapa Perbedaan antara Bronkiektasis dan Bronkitis

Terdapat sesuatu yang mencolok sehingga terlihat jelas perbedaan dari dua kondisi “kelainan” di saluran pernapasan tersebut, di antaranya:

  • Bronkitis tidak mengubah atau mempengaruhi bentuk atau struktur bronkus. Sementara bronkiektasis cenderung mengubah atau mempengaruhi bentuk atau struktur bronkus secara permanen.
  • Penyebab bronkitis biasanya disebabkan oleh infeksi virus seperti yang disebabkan oleh influenza A atau B, parainfluenza, atau coronavirus. Adapun bronkiektasis disebabkan oleh infeksi bakteri seperti pneumonia atau infeksi kronis seperti cystic fibrosis, alergi bronkopulmonalis aspergillosis, dan HIV.
  • Faktor risiko bronkitis: Merokok, terserang flu, berbagai virus, dan fibrosis kistik. Faktor risiko bronkiektasis: memiliki cystic fibrosis, HIV, atau alergi bronchopulmonary aspergillosis.
  • Bronkitis bisa didiagnosis dengan pemeriksaan fisik dan rontgen dada. Bronkiektasis didiagnosis dengan melihat CT scan resolusi tinggi pada dada.

Dapat dipahami bahwa kedua gangguan pernapasan, baik bronkiektasis maupun bronkitis, itu sama-sama menyerang tabung bronkial atau biasa dikenal dengan bronkus. Meski bronkiektasis lebih berbahaya ketimbang bronkitis, tetapi dua jenis penyakit pernapasan ini sama-sama bisa diobati dengan obat penghilang rasa sakit dan obat bronkodilator.

Read More

Operasi Sinus Mungkin Tidak Selalu Dibutuhkan

Sinus adalah salah satu bagian dalam serangkaian anatomi hidung manusia. Ia semacam rongga pada tulang wajah yang terdapat di area hidung. Ada satu kondisi kesehatan yang mengakibatkan terjadinya peradangan di sinus, itu disebut sinusitis. Kondisi itu kadang memaksa penderitanya harus melakukan prosedur operasi sinus.

Kondisi sinusitis menyebabkan mukosa yang melapisi sinus membengkak sehingga menghambat pengaliran lendir ke hidung dan tenggorok, akhirnya menimbulkan hidung tersumbat. Sinusitis akan membuat penderitanya amat terganggu lantaran kondisi itu membuat fungsi sinus tak maksimal. Pasalnya, sinus berfungsi untuk menghangatkan atau melembabkan udara yang dihirup, membantu pengaturan tekanan intranasal, berperan dalam pertahanan tubuh, meringankan tengkorak, hingga memberikan resonansi suara.

Gangguan yang dirasakan menjadi pendorong yang kuat bagi seseorang untuk memutuskan menjalani operasi sinus. Padahal, tak semua sinusitis harus diselesaikan melalui jalan operasi. Sinusitis umumnya dapat diobati dengan pemberian antibiotik (bila disebabkan oleh infeksi bakteri) dan pelega napas (dekongestan). Pada beberapa kasus dapat pula diberikan steroid sebagai antiradang dan juga obat-obatan antinyeri lainnya. Selain itu, rutin melakukan cuci hidung menggunakan larutan air garam juga membantu mengatasi sinusitis.

Kriteria Seseorang Harus Melakukan Operasi Sinus

Bila sinusitis tidak mengalami perbaikan setelah pemberian obat yang memadai dan rutin melakukan cuci hidung, barulah operasi bisa menjadi pilihan terapi. Selain itu, operasi sinus baru benar-benar dibutuhkan oleh mereka yang telah sampai pada tahap:

  • Sinusitis kronis yang tidak membaik setelah terapi yang memadai;
  • Sinusitis kronis disertai kelainan struktur, contoh septum deviasi (tulang hidung bengkok);
  • Sudah cukup parah dan menyebabkan komplikasi ke mata (kebutaan), otak (abses otak atau penumpukan nanah di otak), telinga (radang telinga), tenggorokan dan bronchitis;
  • Adanya polip hidung;
  • Adanya komplikasi sinusitis, seperti meningitis, abses otak, atau infeksi ke tulang di sekitar sinus;
  • Pada sinusitis kronik yang menimbulkan kista;
  • Sinusitis yang disebabkan oleh jamur.

Adapun operasi sinus pada kenyataannya tidak dapat dijadikan patokan untuk seseorang terbebas dari masalah sinusitis. Sebab, sinusitis merupakan kondisi kesehatan kambuhan atau bisa kembali sewaktu-waktu bila faktor-faktor terjadinya tercukupi.

Penyebab Kegagalan Operasi Sinus

Seseorang biasanya akan menemui “kegagalan” dari prosedur operasi sinus yang telah dilewatinya lantaran hal-hal seperti:

  • Tidak adanya perawatan pasca-operasi;
  • Pengobatan pada penderita alergi yang kurang baik;
  • Kembali terpapar oleh faktor-faktor penyebab, seperti debu di ruangan dan kain atau ruangan yang dingin.

Jika sudah demikian, artinya orang yang menjalani operasi sinus akan mendapatkan bermacam kerugian, mulai dari tenaga, materi, hingga waktu yang dimilikinya. Belum lagi jika ditengok dari risiko yang mungkin didapat sepanjang melakoni prosedur operasi sinus tersebut.

Risiko di Balik Prosedur Operasi Sinus

Meski jarang terjadi, tetapi kemungkinan akan risiko yang didapat pasien tetap ada. Risiko-risiko tersebut antara lain:

  • Perdarahan: Pendarahan adalah salah satu risiko paling umum dari sebuah prosedur operasi, termasuk operasi sinus. Oleh karena itu, pastikan Anda menjalankan prosedur tersebut di tempat dan/atau dengan tenaga ahli yang kompeten di bidangnya.
  • Gangguan penglihatan: Pernah ada laporan bahwa seseorang mengalami gangguan penglihatan setelah operasi sinus. Kemungkinan itu tentu amat mengerikan jika menimpa diri kita.
  • Kehilangan kemampuan penciuman: Kehilangan kemampuan penciuman sementara maupun permanen bisa saja terjadi setelah operasi sinus.
  • Kebocoran cairan otak (CSF leak): Semua jenis operasi sinus berpeluang untuk menimbulkan terjadinya kebocoran cairan yang mengelilingi otak (CSF). Kebocoran CSF dapat mengakibatkan terjadinya infeksi di otak hingga terjadi meningitis (radang otak).
  • Risiko lain: Pasien bisa pula mengalami mati rasa atau merasa tidak nyaman pada gigi untuk jangka waktu tertentu. Pembengkakan, memar, atau mati rasa sementara pada bibir dan perubahan suara juga dapat terjadi.

***

Dengan kenyataan tersebut menjadi amat penting bagi seorang penderita sinusitis untuk mengetahui secara menyeluruh terkait kondisi yang dialaminya sebelum membuat keputusan melakukan operasi sinus. Konsultasi dengan dokter terkait (THT) menjadi prosedur wajib sebelum operasi dilakukan.

Read More

Bagaimana Cara Mengurus Jenazah Pasien Corona?

Virus Corona atau Covid-19 terjadi sejak 31 Desember 2019 dan telah menyebar ke setiap negara dimana terdapat lebih dari 1 juta kasus dan mengakibatkan lebih dari 55.000 orang meninggal dunia, namun lebih dari 222.000 orang dinyatakan sembuh. Orang-orang yang meninggal akibat Corona perlu dikubur, namun jenazah pasien Corona harus diurus dengan hati-hati.

Jenazah pasien Corona perlu diurus sesuai ketentuan yang diterapkan oleh Kementerian Agama (Kemenag) Republik Indonesia. Prosedur untuk mengurus jenazah pasien Corona harus dilakukan dengan hati-hari untuk mencegah penyebaran virus Corona. Prosedur mengurus jenazah pasien Corona dimulai dari memandikannya hingga menguburnya.

Proses penguburan jenazah pasien Corona harus dilakukan oleh petugas kesehatan pihak rumah sakit yang telah dipilih oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia dimana nantinya mereka akan dilengkapi dengan alat pelindung diri (APD) seperti sarung tangan dan masker.

Mencuci Jenazah Pasien Corona

Selain melengkapi diri dengan APD, petugas-petugas jenazah perlu melakukan hal-hal sebagai berikut:

  • Tidak makan, minum, merokok, atau menyentuh wajah selama berada di dalam ruangan jenazah.
  • Ketika memandikan jenazah, petugas jangan melakukan kontak langsung dengan darah atau cairan tubuh jenazah.
  • Setelah memandikan jenazah, petugas perlu cuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer yang mengandung alkohol.

Jika petugas terkena darah atau cairan dari tubuh jenazah, maka mereka perlu lakukan hal-hal sebagai berikut:

  • Segera membersihkan bagian tubuh yang terkena luka dengan air bersih.
  • Jika petugas menemukan atau mengalami insiden ketika memandikan jenazah, maka petugas diharapkan untuk segera melaporkan kepada pengawas.

Hal lain yang perlu petugas jenazah lakukan adalah menyemprotkan klorin pada jenazah pasien Corona dan petugas jenazah yang terlibat dalam proses penguburan jenazah.

Mengubur Jenazah Pasien Corona

Setelah petugas jenazah memandikan jenazah pasien Corona, mereka dapat mengubur jenazah. Namun, petugas-petugas jenazah tidak boleh mengubur jenazah sembarangan, karena mereka harus mematuhi protokol untuk mencegah penyebaran virus melalui tanah.

Menurut Kemenag, petugas perlu mengubur jenazah dengan tata cara sebagai berikut:

  • Tergantung pada kondisi jenazah, jenazah dari pasien penyakit menular dapat dikuburkan atau dikremasi.
  • Jika jenazah pasien Corona perlu dikubur, maka jenazah tersebut harus dikubur di lokasi pemakaman dimana jaraknya harus berada setidaknya 50 meter dari sumber air tanah yang digunakan sebagai sumber air minum penduduk. Selain itu, lokasi penguburannya harus berjarak setidaknya 500 meter dari pemukiman.
  • Jenazah pasien Corona juga harus dikubur setidaknya sedalam 1,5 meter.
  • Liang kubur ditutup setidaknya setinggi 1 meter dengan tanah.
  • Petugas jenazah perlu mengubur jenazah pasien Corona dengan hati-hati, karena jika ada jenazah lain yang dikuburkan, maka perlu dikubur secara terpisah.

Jika pihak keluarga setuju untuk mengkremasi jenazah pasien Corona, maka jenazah tersebut perlu dikremasi dalam jarak 500 meter dari pemukiman terdekat. Walaupun demikian, Kemenag tidak menyarankan jenazah dikremasi supaya mengurangi polusi asap.

Setelah petugas jenazah selesai mengubur atau mengkremasi jenazah pasien Corona, mereka perlu buang benda-benda yang digunakan dalam proses pengurusan jenazah secepatnya. Selain itu, petugas perlu menyemprot klorin lagi tubuh dan pakaian pelindungnya.

Hal-Hal Yang Perlu Dilakukan Untuk Mencegah Penyebaran Virus Corona

Untuk mencegah terjadinya penyebaran virus Corona, Anda juga dihimbau untuk melakukan beberapa hal sebagai berikut:

  • Tetap berada di rumah untuk melakukan aktivitas sesuai kebutuhan.
  • Anda hanya diperbolehkan keluar rumah jika ada keperluan mendesak seperti membeli obat.
  • Selama Anda berada di luar rumah, Anda sebaiknya gunakan masker untuk melindungi diri dari paparan virus Corona melalui udara.
  • Anda juga sebaiknya bawa tisu dan hand sanitizer jika Anda menyentuh benda yang terkontaminasi virus Corona seperti pegangan pintu.
  • Jangan melakukan kontak fisik dengan orang lain. Anda perlu jaga jarak dari orang lain setidaknya 1 meter.
  • Anda perlu cuci tangan secara rutin dengan sabun setidaknya 20 detik.
  • Konsumsi makanan yang sehat seperti buah-buahan dan sayuran.
  • Masaklah makanan dengan matang.
  • Berolahraga secara teratur di rumah.

Selain itu, Anda sebaiknya ikuti perkembangan yang terjadi melalui berita dan berdoa supaya tenaga medis dapat melakukan upaya maksimal untuk menyembuhkan pasien yang terkena virus Corona, dan supaya mereka dapat mengurus jenazah pasien Corona dengan baik.

Read More

Penyakit Menular Seksual Salah Satu Dampak Seks Bebas

Dampak seks bebas dengan lebih dari satu pasangan adalah dapat terjangkit infeksi menular seksual

Menurut masyarakat Indonesia, seks bebas merupakan semua kegiatan seks di luar nikah di mana para pelaku seks tersebut kerap gonta-ganti pasangan. Kegiatan seks tersebut biasanya dilakukan tanpa adanya ikatan emosional maupun komitmen. Apabila tidak dilakukan dengan aman dan bertanggung jawab, dampak seks bebas yang paling sering dijumpai adalah pelaku seks bebas terkena penyakit menular seksual  (STD). 

Istilah penyakit menular seksual mengacu pada sebuah kondisi medis yang dapat ditularkan dari satu orang ke orang lain melalui hubungan seksual. Anda dapat mengidap ataupun menularkan STD dengan melakukan seks bebas tanpa menggunakan pengaman, baik melalui vagina, anal, ataupun hanya oral. Penyakit menular seksual biasanya merupakan hasil dampak seks bebas. Namun, bukan berarti STD hanya dapat ditularkan melalui hubungan seksual saja. Dalam kasus beberapa jenis STD tertentu, infeksi dapat ditularkan melalui jarum suntik dan menyusui.

Gejala STD

Sangat mungkin seseorang terkena penyakit menular seksual tanpa menunjukkan adanya tanda-tanda atau gejala yang berarti. Namun, beberapa jenis STD dapat menunjukkan gejala yang jelas. Pada pria, gejala Anda mengidap STD seperti rasa sakit atau tidak nyaman saat berhubungan seks ataupun buang air kecil; rasa sakit atau munculnya benjolan dan ruam di sekitar penis, buah zakar, anus, pantat, paha, dan mulut; keluarnya darah lewat penis yang tidak biasa; dan buah zakar yang bengkak ataupun terasa sakit. Pada wanita, benjolan dan ruam dapat muncul di sekitar vagina, serta pendarahan dan rasa gatal di sekitar vagina.

Jenis-jenis penyakit menular seksual 

Sebagai salah satu dampak seks bebas, ada beberapa penyakit menular seksual yang umum ditemukan. Beberapa contoh STD tersebut di antaranya adalah:

  • Klamidia

Penyakit ini disebabkan oleh bakteri jenis tertentu. Di Amerika Serikat sendiri, penyakit klamidia merupakan jenis STD yang paling sering dilaporkan menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC). Mereka yang mengidap klamidia sering tidak menunjukkan tanda-tanda atau gejala tertentu. Saat gejala mulai terbentuk, penderita akan merasakan rasa sakit atau tidak nyaman saat buang air kecil ataupun saat melakukan hubungan seksual, keluarnya cairan berwarna hijau atau kuning dari penis atau vagina, dan rasa sakit pada perut bagian bawah. Jika tidak segera diobati, klamidia dapat menyebabkan infeksi pada bagian urethra, kelenjar prostat, dan buah zakar; penyakit radang panggul; dan ketidaksuburan. Apabila seorang ibu hamil memiliki klamidia dan tidak diobati, ia dapat menularkan penyakit ini ke bayi saat masa kelahiran, dan bayi kemungkinan akan menderita pneumonia, infeksi mata, dan kebutaan.

  • HPV

Dampak seks bebas yang kedua adalah HPV. Virus papiloma manusia ini dapat ditularkan dari satu orang ke orang lain melalui kontak kulit intim langsung maupun lewat hubungan seksual. Gejala HPV yang paling umum adalah munculnya kutil pada bagian alat kelamin, mulut, dan juga tenggorokan. Infeksi HPV dapat menyebabkan kanker mulut, kanker serviks, kanker vuvar, kanker penis, dan kanker dubur. Tidak ada obat untuk kasus HPV. Namun, infeksi HPV biasanya akan hilang dengan sendirinya.

Penyakit menular seksual merupakan salah satu dampak seks bebas yang umum terjadi. Apabila Anda menderita penyakit ini, segera mendapatkan perawatan secepatnya merupakan tindakan yang harus Anda lakukan. Beberapa jenis STD dapat menyebabkan konsekuensi atau komplikasi parah apabila tidak diobati. Meskipun jarang terjadi, penyakit menular seksual juga dapat menyebabkan kematian.

Read More