Category Penyakit

Nyeri Tulang Belakang Dapat Disebabkan karena Desikasi Disk

Hernia nucleus pulposus membuat Anda mengalami nyeri punggung

Tulang punggung Anda terdiri dari tumpukan tulang yang disebut vertebra. Di antara setiap vertebra, terdapat disk yang kuat dan kenyal yang bertindak sebagai peredam kejut. Setelah beberapa lama, disk tersebut kemudian akan aus karena sebuah bagian dari proses yang bernama penyakit disk degeneratif. Desekasi disk merupakan salah satu fitur paling umum dijumpai pada penyakit disk degeneratif. Kondisi ini berupa dehidrasi pada disk. Pada kondisi normal, disk vertebra Anda penuh cairan, yang membuatnya tetap fleksibel dan kuat. Semakin Anda bertambah tua, disk akan secara perlahan kehilang cairan tersebut, untuk kemudian diganti dengan fibrocartilage, jaringan berserat yang kuat yang membuat bagian luar disk. Salah satu tanda Anda menderita desikasi disk adalah adanya nyeri tulang belakang. 

Penyebab dan gejala

Salah satu gejala pertama adanya desikasi disk adalah punggung terasa kaku. Anda juga bisa merasakan nyeri tulang belakang, kelemahan, dan adanya sensasi kesemutan di punggung. Tergantung bagian disk mana yang terkena kondisi ini, Anda juga bisa menderita mati rasa pada bagian punggung bawah. Dalam kasus-kasus tertentu, rasa sakit dan mati rasa akan menjalar dari punggung ke bawah ke kedua kaki. Anda juga akan merasakan adanya perubahan pada refleks lutut dan kaki. 

Desikasi disk umumnya disebabkan karena keausan atau adanya robekan pada tulang belakang, yang mana dapat terjadi secara alami ketika seseorang bertambah tua. Beberapa hal lain yang dapat menyebabkan desikasi disk di antaranya adalah:

  1. Trauma akibat kecelakaan mobil, terjatuh, ataupun cidera olahraga
  2. Ketegangan yang berulang pada punggung, terutama setelah mengangkat benda-benda yang berat
  3. Turunnya berat badan dengan tiba-tiba, yang menyebabkan tubuh (termasuk disk) kehilangan banyak cairan

Diagnosa dan perawatan

Untuk mendiagnosa kondisi ini, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik. Mereka akan meminta Anda untuk melakukan beberapa gerakan tertentu dan melihat apakah gerakan tersebut menyebabkan rasa sakit. Hal ini juga dapat membantu dokter untuk mengetahui bagian disk mana yang terdampak. Selanjutnya, Anda akan menjalani pemindaian sinar-X, CT, ataupun MRI agar dokter dapat melihat dengan jelas kondisi vertebra dan disk. Disk yang dehidrasi umumnya akan tampak lebih kurus dengan bentuk yang tidak konsisten. Gambar hasil pemindaian juga akan menunjukkan kondisi-kondisi lain yang dapat menyebabkan nyeri tulang belakang, misalnya karena disk yang pecah atau terherniasi. 

Jika gejala desikasi disk ringan, dokter akan merekomendasikan pasien untuk menjaga berat badan, mempraktikkan postur tubuh yang baik, dan menhindari pemicu utama nyeri tulang belakang (misalnya mengangkat benda-benda yang berat). Namun, apabila gejala yang dirasakan lebih parah, beberapa pilihan perawatan di antaranya adalah:

  1. Obat-obatan penghilang rasa sakit seperti obat anti-peradangan non-steorid (NSAID) seperti ibuprofen dan naproxen dapat membantu mengurangi rasa sakit. 
  2. Terapi pijat, untuk membuat otot di sekitar vertebra yang terdampak menjadi relaks dapat membantu meredakan tekanan yang sakit
  3. Terapi fisik. Terapis ahli akan mengajari Anda bagaimana cara memperkuat otot inti yang mendukung tulang belakang dan menghilangkan tekanan di punggung. Mereka juga dapat membantu Anda memperbaiki postur tubuh dan merekomendasikan strategi khusus untuk menghindari gerakan-gerakan yang dapat memicu terjadinya gejala desikasi disk. 

Desikasi disk bukanlah sesuatu yang bisa dicegah. Namun, Anda bisa mengatasi gejala yang ditimbulkan, misalnya nyeri tulang belakang dengan mengunjungi dokter dan mendapatkan rencana perawatan khusus. Beberapa hal yang bisa dilakukan di antaranya adalah dengan kombinasi antara obat, terapi fisik, dan latihan.

Read More

Hindari Stres agar Tak Terserang Iskemia Jantung

Jantung adalah organ vital manusia. Keberadaannya di dalam tubuh manusia memungkinkan terjadinya sirkulasi darah, dan selanjutnya termasuk oksigen pula. Namun, jantung merupakan organ yang mudah terserang penyakit, salah satunya iskemia.

Iskemia berkaitan dengan sitem aliran darah. Jantung yang terkena iskemia sangat mungkin tak mendapat pasokan atau suplai darah. Penyebab utamanya adalah sumbatan pada pembuluh darah arteri koroner yang menyuplai oksigen untuk otot jantung. Namun, tahukah Anda jika iskemia jantung juga bisa dipicu oleh stres?

Beberapa penilitian yang digelar oleh tenaga medis didapatkan kenyataan bahwa stres dapat membahayakan setidaknya 70% orang dengan penyakit jantung. Artinya, tujuh dari 10 orang yang memiliki penyakit jantung dapat mengalami episode aliran darah yang tidak memadai ke jantung ketika mereka mengalami stres.

Dalam dunia medis, iskemia jantung atau biasa disebut iskemia miokardium, yang dipicu oleh stres adalah iskemia tekanan mental. Stres, baik emosional maupun mental, bekerja dengan cara yang sama seperti aliran darah yang tidak memadai yang disebabkan oleh stres fisik. Hal ini juga kemungkinan dapat memicu serangan jantung.

Seorang profesor kedokteran di Harvard Medical School dan Brigham and Women’s Hospital, Dr. Peter Stone, menjelaskan bahwa efek fisiologis dari tekanan mental membuat jantung membutuhkan lebih banyak oksigen, akan tetapi karena arteri tersumbat, maka jantung tidak mendapatkannya. Kondisi itulah yang memungkinkan iskemia miokardium atau iskemia jantung terjadi.

Selain itu, tekanan emosional atau mental juga dapat menyebabkan vasokonstriksi atau kondisi di mana arteri koroner mengalami sedikit kejang dan tidak memberikan aliran darah yang cukup ke otot jantung.

  • Waspada! Iskemia Jantung Merupakan Silent Killer

Jantung yang tidak mendapat pasokan darah dan/atau okesigen yang cukup akan menyebabkan kematian sel otot jantung dan berujung pada serangan jantung. Selain itu, iskemia jantung juga dapat menyebabkan gangguan irama jantung yang akan memengaruhi pompa jantung. Jika pompa jantung menjadi tidak normal, maka darah tidak dapat mengalir dengan normal ke seluruh tubuh. Keadaan ini disebut gagal jantung.

Masalahnya, iskemia jantung yang dipicu oleh stres ini berpotensi besar menyebabkan kondisi berbahaya dan kritis secara tiba-tiba. Pasalnya, banyak orang yang tidak sadar bahwa mereka tengah diintai oleh sebuah bahaya. Hal ini berkaitan dengan tidak ada gejala atau perasaan khusus yang mungkin bisa menjadi tanda.

Sebagai contoh, jika saat berolahraga dan seseorang merasakan seseuatu yang tidak nyaman di dada, mereka biasanya tahu bahwa sedang ada yang tidak beres dan biasanya mereka akan memperlambat (olahraga) dan berhenti. Berbeda dengan stres yang tidak mendapatkan gejala yang dapat menyuruh seseorang untuk berhenti.

Jika seseorang dengan penyakit arteri koroner mengalami tekanan emosional sehingga menyebabkan orang tersebut stres, maka bisa jadi orang tersebut kemungkinan bersar mengalami iskemia miokardium.

Meski begitu, ketika kondisi tersebut benar-benar terjadi, ada beberapa tanda umum yang bisa dijadikan sebagai peringatan, yakni tekanan atau nyeri pada dada, biasanya di sisi kiri tubuh (angina pectoris).

Kondisi-kondisi seperti nyeri leher atau rahang, nyeri bahu atau lengan, jantung berdetak cepat, napas pendek, mual hingga muntah, berkeringat, hingga merasakan kelelahan yang amat sangat, itu juga bisa menandakan bahwa seseorang kemungkinan menderita iskemia jantung/

Jika seseorang mengalami gejala iskemia jantung atau miokardium yang berlangsung selama lebih dari 5 menit, segera hubungi dokter. Karena, seseorang mungkin akan mengalami serangan jantung dan berujung pada situasi yang gawat.

Read More

Meski Terdengar Sama, Bronkiektasis dan Bronkitis Amat Berbeda

Pelebaran dan penebalan pada bronkus (bronkiektasis) dapat mengakibatkan penyumbatan saluran napas.

Masalah yang terjadi di saluran pernapasan manusia begitu beragam. Ada banyak jenis dan macamnya. Namun, satu yang pasti hampir semuanya bisa membuat penderitanya tak dapat hidup dengan tenang. Seperti contohnya mereka yang menderita bronkiektasis dan bronkitis.

Sebenarnya apa sih bronkiektasis dan bronkitis tersebut? Mengapa bisa dikatakan orang yang mengidap penyakit tersebut amat menderita? Dan apakah keduanya sama atau justru berbeda? Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan dijawab di artikel ini.

  • Yang Perlu Diketahui Terkait Bronkitis

Bronkitis adalah penyakit yang terjadi ketika terdapat peradangan di saluran pernapasan, utamanya trakea (batang tenggorokan) dan bronkus. Bronkitis dimulai dengan batuk, lalu menghasilkan dahak. Sering juga penderita bronkitis merasakan sakit di dada, sesak, hingga memicu dispnea. 

Umunya, salah satu gangguan pernapasan ini terjadi hasil dari infeksi virus, terutama yang terkait dengan influenza tipe A dan B, serta rhinovirus. Ada jenis virus lain yang juga dapat menyebabkan bronkitis, termasuk parainfluenza dan coronavirus. 

Kebiasaan seperti merokok dapat meningkatkan kemungkinan terserang bronkitis karena dapat memiliki penyakit fibrosis kistik. Selain itu, memiliki beberapa jenis penyakit seperti influenza atau cystic fibrosis adalah faktor risiko untuk mendapatkan bronkitis seperti halnya para perokok

Seorang dokter dapat mendiagnosis bronkitis pada seseorang dengan melakukan pemeriksaan fisik dan mencatat gejalanya. Mendengarkan dada dan melakukan rontgen dada juga membantu mendapatkan gambaran pasti mengenai kondisi seseorang.

Umumnya, kondisi ini diobati secara simtomatis dengan obat penghilang rasa sakit dan obat bronkodilator seperti albuterol yang membantu mengatasinya. Kondisi biasanya berlangsung selama lebih dari seminggu dan bahkan mungkin memakan waktu hingga 21 hari bagi seseorang untuk sembuh dari bronkitis. Bronkitis akut pada akhirnya dapat menyebabkan pneumonia jika tidak diobati.

  • Mengenal Bronkiektasis

Mungkin istilah dari salah satu penyakit pernapasan ini tidak sepopuler bronkitis. Bronkiektasis dapat dipahami sebagai kondisi di mana saluran napas yang bernama bronkus rusak. Kerusakan itu memicu pertumbuhan bakteri dan lendir yang pada tahap selanjutnya akan menyebabkan infeksi.

Penderita bronkiektasis akan merasakan batuk menerus disertai dengan dahak. Banyak penderita bronkiektasis yang juga mengalami kesulitan bernapas dan menderita demam. Penyakit ini dapat disebabkan oleh aspergillosis bronkopulmonalis alergi, fibrosis kistik, dan masalah dengan silia dan penyakit jaringan ikat. Dalam beberapa kasus bronkiektasis fokal, penyebabnya diduga pneumonia.

Kondisi ini dapat terjadi pada satu atau beberapa tempat di paru-paru, atau bahkan menyerang seluruh bagian paru-paru. Dokter biasanya akan melakukan CT Scan untuk mendapat gambaran diagnosis yang akurat.

Bronkiektasis yang tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan kematian. Oleh karenanya, setelah mendapat diagnosis, dokter akan langsung meresepkan beberapa obat untuk membantu tubuh melawan masalah tersebut.

  • Beberapa Perbedaan antara Bronkiektasis dan Bronkitis

Terdapat sesuatu yang mencolok sehingga terlihat jelas perbedaan dari dua kondisi “kelainan” di saluran pernapasan tersebut, di antaranya:

  • Bronkitis tidak mengubah atau mempengaruhi bentuk atau struktur bronkus. Sementara bronkiektasis cenderung mengubah atau mempengaruhi bentuk atau struktur bronkus secara permanen.
  • Penyebab bronkitis biasanya disebabkan oleh infeksi virus seperti yang disebabkan oleh influenza A atau B, parainfluenza, atau coronavirus. Adapun bronkiektasis disebabkan oleh infeksi bakteri seperti pneumonia atau infeksi kronis seperti cystic fibrosis, alergi bronkopulmonalis aspergillosis, dan HIV.
  • Faktor risiko bronkitis: Merokok, terserang flu, berbagai virus, dan fibrosis kistik. Faktor risiko bronkiektasis: memiliki cystic fibrosis, HIV, atau alergi bronchopulmonary aspergillosis.
  • Bronkitis bisa didiagnosis dengan pemeriksaan fisik dan rontgen dada. Bronkiektasis didiagnosis dengan melihat CT scan resolusi tinggi pada dada.

Dapat dipahami bahwa kedua gangguan pernapasan, baik bronkiektasis maupun bronkitis, itu sama-sama menyerang tabung bronkial atau biasa dikenal dengan bronkus. Meski bronkiektasis lebih berbahaya ketimbang bronkitis, tetapi dua jenis penyakit pernapasan ini sama-sama bisa diobati dengan obat penghilang rasa sakit dan obat bronkodilator.

Read More

Operasi Sinus Mungkin Tidak Selalu Dibutuhkan

Sinus adalah salah satu bagian dalam serangkaian anatomi hidung manusia. Ia semacam rongga pada tulang wajah yang terdapat di area hidung. Ada satu kondisi kesehatan yang mengakibatkan terjadinya peradangan di sinus, itu disebut sinusitis. Kondisi itu kadang memaksa penderitanya harus melakukan prosedur operasi sinus.

Kondisi sinusitis menyebabkan mukosa yang melapisi sinus membengkak sehingga menghambat pengaliran lendir ke hidung dan tenggorok, akhirnya menimbulkan hidung tersumbat. Sinusitis akan membuat penderitanya amat terganggu lantaran kondisi itu membuat fungsi sinus tak maksimal. Pasalnya, sinus berfungsi untuk menghangatkan atau melembabkan udara yang dihirup, membantu pengaturan tekanan intranasal, berperan dalam pertahanan tubuh, meringankan tengkorak, hingga memberikan resonansi suara.

Gangguan yang dirasakan menjadi pendorong yang kuat bagi seseorang untuk memutuskan menjalani operasi sinus. Padahal, tak semua sinusitis harus diselesaikan melalui jalan operasi. Sinusitis umumnya dapat diobati dengan pemberian antibiotik (bila disebabkan oleh infeksi bakteri) dan pelega napas (dekongestan). Pada beberapa kasus dapat pula diberikan steroid sebagai antiradang dan juga obat-obatan antinyeri lainnya. Selain itu, rutin melakukan cuci hidung menggunakan larutan air garam juga membantu mengatasi sinusitis.

Kriteria Seseorang Harus Melakukan Operasi Sinus

Bila sinusitis tidak mengalami perbaikan setelah pemberian obat yang memadai dan rutin melakukan cuci hidung, barulah operasi bisa menjadi pilihan terapi. Selain itu, operasi sinus baru benar-benar dibutuhkan oleh mereka yang telah sampai pada tahap:

  • Sinusitis kronis yang tidak membaik setelah terapi yang memadai;
  • Sinusitis kronis disertai kelainan struktur, contoh septum deviasi (tulang hidung bengkok);
  • Sudah cukup parah dan menyebabkan komplikasi ke mata (kebutaan), otak (abses otak atau penumpukan nanah di otak), telinga (radang telinga), tenggorokan dan bronchitis;
  • Adanya polip hidung;
  • Adanya komplikasi sinusitis, seperti meningitis, abses otak, atau infeksi ke tulang di sekitar sinus;
  • Pada sinusitis kronik yang menimbulkan kista;
  • Sinusitis yang disebabkan oleh jamur.

Adapun operasi sinus pada kenyataannya tidak dapat dijadikan patokan untuk seseorang terbebas dari masalah sinusitis. Sebab, sinusitis merupakan kondisi kesehatan kambuhan atau bisa kembali sewaktu-waktu bila faktor-faktor terjadinya tercukupi.

Penyebab Kegagalan Operasi Sinus

Seseorang biasanya akan menemui “kegagalan” dari prosedur operasi sinus yang telah dilewatinya lantaran hal-hal seperti:

  • Tidak adanya perawatan pasca-operasi;
  • Pengobatan pada penderita alergi yang kurang baik;
  • Kembali terpapar oleh faktor-faktor penyebab, seperti debu di ruangan dan kain atau ruangan yang dingin.

Jika sudah demikian, artinya orang yang menjalani operasi sinus akan mendapatkan bermacam kerugian, mulai dari tenaga, materi, hingga waktu yang dimilikinya. Belum lagi jika ditengok dari risiko yang mungkin didapat sepanjang melakoni prosedur operasi sinus tersebut.

Risiko di Balik Prosedur Operasi Sinus

Meski jarang terjadi, tetapi kemungkinan akan risiko yang didapat pasien tetap ada. Risiko-risiko tersebut antara lain:

  • Perdarahan: Pendarahan adalah salah satu risiko paling umum dari sebuah prosedur operasi, termasuk operasi sinus. Oleh karena itu, pastikan Anda menjalankan prosedur tersebut di tempat dan/atau dengan tenaga ahli yang kompeten di bidangnya.
  • Gangguan penglihatan: Pernah ada laporan bahwa seseorang mengalami gangguan penglihatan setelah operasi sinus. Kemungkinan itu tentu amat mengerikan jika menimpa diri kita.
  • Kehilangan kemampuan penciuman: Kehilangan kemampuan penciuman sementara maupun permanen bisa saja terjadi setelah operasi sinus.
  • Kebocoran cairan otak (CSF leak): Semua jenis operasi sinus berpeluang untuk menimbulkan terjadinya kebocoran cairan yang mengelilingi otak (CSF). Kebocoran CSF dapat mengakibatkan terjadinya infeksi di otak hingga terjadi meningitis (radang otak).
  • Risiko lain: Pasien bisa pula mengalami mati rasa atau merasa tidak nyaman pada gigi untuk jangka waktu tertentu. Pembengkakan, memar, atau mati rasa sementara pada bibir dan perubahan suara juga dapat terjadi.

***

Dengan kenyataan tersebut menjadi amat penting bagi seorang penderita sinusitis untuk mengetahui secara menyeluruh terkait kondisi yang dialaminya sebelum membuat keputusan melakukan operasi sinus. Konsultasi dengan dokter terkait (THT) menjadi prosedur wajib sebelum operasi dilakukan.

Read More

Bagaimana Cara Mengurus Jenazah Pasien Corona?

Virus Corona atau Covid-19 terjadi sejak 31 Desember 2019 dan telah menyebar ke setiap negara dimana terdapat lebih dari 1 juta kasus dan mengakibatkan lebih dari 55.000 orang meninggal dunia, namun lebih dari 222.000 orang dinyatakan sembuh. Orang-orang yang meninggal akibat Corona perlu dikubur, namun jenazah pasien Corona harus diurus dengan hati-hati.

Jenazah pasien Corona perlu diurus sesuai ketentuan yang diterapkan oleh Kementerian Agama (Kemenag) Republik Indonesia. Prosedur untuk mengurus jenazah pasien Corona harus dilakukan dengan hati-hari untuk mencegah penyebaran virus Corona. Prosedur mengurus jenazah pasien Corona dimulai dari memandikannya hingga menguburnya.

Proses penguburan jenazah pasien Corona harus dilakukan oleh petugas kesehatan pihak rumah sakit yang telah dipilih oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia dimana nantinya mereka akan dilengkapi dengan alat pelindung diri (APD) seperti sarung tangan dan masker.

Mencuci Jenazah Pasien Corona

Selain melengkapi diri dengan APD, petugas-petugas jenazah perlu melakukan hal-hal sebagai berikut:

  • Tidak makan, minum, merokok, atau menyentuh wajah selama berada di dalam ruangan jenazah.
  • Ketika memandikan jenazah, petugas jangan melakukan kontak langsung dengan darah atau cairan tubuh jenazah.
  • Setelah memandikan jenazah, petugas perlu cuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer yang mengandung alkohol.

Jika petugas terkena darah atau cairan dari tubuh jenazah, maka mereka perlu lakukan hal-hal sebagai berikut:

  • Segera membersihkan bagian tubuh yang terkena luka dengan air bersih.
  • Jika petugas menemukan atau mengalami insiden ketika memandikan jenazah, maka petugas diharapkan untuk segera melaporkan kepada pengawas.

Hal lain yang perlu petugas jenazah lakukan adalah menyemprotkan klorin pada jenazah pasien Corona dan petugas jenazah yang terlibat dalam proses penguburan jenazah.

Mengubur Jenazah Pasien Corona

Setelah petugas jenazah memandikan jenazah pasien Corona, mereka dapat mengubur jenazah. Namun, petugas-petugas jenazah tidak boleh mengubur jenazah sembarangan, karena mereka harus mematuhi protokol untuk mencegah penyebaran virus melalui tanah.

Menurut Kemenag, petugas perlu mengubur jenazah dengan tata cara sebagai berikut:

  • Tergantung pada kondisi jenazah, jenazah dari pasien penyakit menular dapat dikuburkan atau dikremasi.
  • Jika jenazah pasien Corona perlu dikubur, maka jenazah tersebut harus dikubur di lokasi pemakaman dimana jaraknya harus berada setidaknya 50 meter dari sumber air tanah yang digunakan sebagai sumber air minum penduduk. Selain itu, lokasi penguburannya harus berjarak setidaknya 500 meter dari pemukiman.
  • Jenazah pasien Corona juga harus dikubur setidaknya sedalam 1,5 meter.
  • Liang kubur ditutup setidaknya setinggi 1 meter dengan tanah.
  • Petugas jenazah perlu mengubur jenazah pasien Corona dengan hati-hati, karena jika ada jenazah lain yang dikuburkan, maka perlu dikubur secara terpisah.

Jika pihak keluarga setuju untuk mengkremasi jenazah pasien Corona, maka jenazah tersebut perlu dikremasi dalam jarak 500 meter dari pemukiman terdekat. Walaupun demikian, Kemenag tidak menyarankan jenazah dikremasi supaya mengurangi polusi asap.

Setelah petugas jenazah selesai mengubur atau mengkremasi jenazah pasien Corona, mereka perlu buang benda-benda yang digunakan dalam proses pengurusan jenazah secepatnya. Selain itu, petugas perlu menyemprot klorin lagi tubuh dan pakaian pelindungnya.

Hal-Hal Yang Perlu Dilakukan Untuk Mencegah Penyebaran Virus Corona

Untuk mencegah terjadinya penyebaran virus Corona, Anda juga dihimbau untuk melakukan beberapa hal sebagai berikut:

  • Tetap berada di rumah untuk melakukan aktivitas sesuai kebutuhan.
  • Anda hanya diperbolehkan keluar rumah jika ada keperluan mendesak seperti membeli obat.
  • Selama Anda berada di luar rumah, Anda sebaiknya gunakan masker untuk melindungi diri dari paparan virus Corona melalui udara.
  • Anda juga sebaiknya bawa tisu dan hand sanitizer jika Anda menyentuh benda yang terkontaminasi virus Corona seperti pegangan pintu.
  • Jangan melakukan kontak fisik dengan orang lain. Anda perlu jaga jarak dari orang lain setidaknya 1 meter.
  • Anda perlu cuci tangan secara rutin dengan sabun setidaknya 20 detik.
  • Konsumsi makanan yang sehat seperti buah-buahan dan sayuran.
  • Masaklah makanan dengan matang.
  • Berolahraga secara teratur di rumah.

Selain itu, Anda sebaiknya ikuti perkembangan yang terjadi melalui berita dan berdoa supaya tenaga medis dapat melakukan upaya maksimal untuk menyembuhkan pasien yang terkena virus Corona, dan supaya mereka dapat mengurus jenazah pasien Corona dengan baik.

Read More

Penyakit Menular Seksual Salah Satu Dampak Seks Bebas

Dampak seks bebas dengan lebih dari satu pasangan adalah dapat terjangkit infeksi menular seksual

Menurut masyarakat Indonesia, seks bebas merupakan semua kegiatan seks di luar nikah di mana para pelaku seks tersebut kerap gonta-ganti pasangan. Kegiatan seks tersebut biasanya dilakukan tanpa adanya ikatan emosional maupun komitmen. Apabila tidak dilakukan dengan aman dan bertanggung jawab, dampak seks bebas yang paling sering dijumpai adalah pelaku seks bebas terkena penyakit menular seksual  (STD). 

Istilah penyakit menular seksual mengacu pada sebuah kondisi medis yang dapat ditularkan dari satu orang ke orang lain melalui hubungan seksual. Anda dapat mengidap ataupun menularkan STD dengan melakukan seks bebas tanpa menggunakan pengaman, baik melalui vagina, anal, ataupun hanya oral. Penyakit menular seksual biasanya merupakan hasil dampak seks bebas. Namun, bukan berarti STD hanya dapat ditularkan melalui hubungan seksual saja. Dalam kasus beberapa jenis STD tertentu, infeksi dapat ditularkan melalui jarum suntik dan menyusui.

Gejala STD

Sangat mungkin seseorang terkena penyakit menular seksual tanpa menunjukkan adanya tanda-tanda atau gejala yang berarti. Namun, beberapa jenis STD dapat menunjukkan gejala yang jelas. Pada pria, gejala Anda mengidap STD seperti rasa sakit atau tidak nyaman saat berhubungan seks ataupun buang air kecil; rasa sakit atau munculnya benjolan dan ruam di sekitar penis, buah zakar, anus, pantat, paha, dan mulut; keluarnya darah lewat penis yang tidak biasa; dan buah zakar yang bengkak ataupun terasa sakit. Pada wanita, benjolan dan ruam dapat muncul di sekitar vagina, serta pendarahan dan rasa gatal di sekitar vagina.

Jenis-jenis penyakit menular seksual 

Sebagai salah satu dampak seks bebas, ada beberapa penyakit menular seksual yang umum ditemukan. Beberapa contoh STD tersebut di antaranya adalah:

  • Klamidia

Penyakit ini disebabkan oleh bakteri jenis tertentu. Di Amerika Serikat sendiri, penyakit klamidia merupakan jenis STD yang paling sering dilaporkan menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC). Mereka yang mengidap klamidia sering tidak menunjukkan tanda-tanda atau gejala tertentu. Saat gejala mulai terbentuk, penderita akan merasakan rasa sakit atau tidak nyaman saat buang air kecil ataupun saat melakukan hubungan seksual, keluarnya cairan berwarna hijau atau kuning dari penis atau vagina, dan rasa sakit pada perut bagian bawah. Jika tidak segera diobati, klamidia dapat menyebabkan infeksi pada bagian urethra, kelenjar prostat, dan buah zakar; penyakit radang panggul; dan ketidaksuburan. Apabila seorang ibu hamil memiliki klamidia dan tidak diobati, ia dapat menularkan penyakit ini ke bayi saat masa kelahiran, dan bayi kemungkinan akan menderita pneumonia, infeksi mata, dan kebutaan.

  • HPV

Dampak seks bebas yang kedua adalah HPV. Virus papiloma manusia ini dapat ditularkan dari satu orang ke orang lain melalui kontak kulit intim langsung maupun lewat hubungan seksual. Gejala HPV yang paling umum adalah munculnya kutil pada bagian alat kelamin, mulut, dan juga tenggorokan. Infeksi HPV dapat menyebabkan kanker mulut, kanker serviks, kanker vuvar, kanker penis, dan kanker dubur. Tidak ada obat untuk kasus HPV. Namun, infeksi HPV biasanya akan hilang dengan sendirinya.

Penyakit menular seksual merupakan salah satu dampak seks bebas yang umum terjadi. Apabila Anda menderita penyakit ini, segera mendapatkan perawatan secepatnya merupakan tindakan yang harus Anda lakukan. Beberapa jenis STD dapat menyebabkan konsekuensi atau komplikasi parah apabila tidak diobati. Meskipun jarang terjadi, penyakit menular seksual juga dapat menyebabkan kematian.

Read More

Gejala, Faktor Risiko, dan Pencegahan Kalazion

Kalazion adalah benjolan atau pembengkakan kecil, biasanya tanpa rasa sakit, yang muncul di kelopak mata Anda. Kelenjar meibom atau kelenjar minyak yang tersumbat biasanya menjadi penyabab utama kondisi ini. Kalazion biasanya akan muncul pada kelopak mata bagian atas dan akan hilang dengan sendirinya tanpa perlu pengobatan khusus. Kalazion sering disalahartikan sebagai bintitan eksternal maupun internal.

Bintitan internal terjadi akibat infeksi pada kelenjar meibom. Sementara itu, bintitan eksternal terjadi akibati infeksi di sekitar folikel bulu mata dan kelenjar keringat. Bintitan biasanya sakit apabila disentuh sementara kalzion tidak terasa sakit. Kalazion dapat muncul setelah bintitan sembuh.

Penyebab dan faktor risiko kalazion

Kalazion disebablan oleh tersumbatnya salah satu kelenjar meibom di bagian atas dan bawah kelopak mata. Minyak yang diproduksi oleh kelenjar ini membantu melembapkan mata. Peradangan ataupun virus yang berdampak pada kelenjar meibom merupakan penyebab utama kalazion. Kalazion sering terjadi pada orang-orang yang memiliki kondisi peradangan seperti seborrhea, jerawat, rosacea, blepharitis kronis, dan peradangan jangka panjang pada kelopak mata. Kalazion juga sering terjadi pada mereka yang menderita konjungtivitis akibat virus dan infeksi yang menyelimuti bagian dalam mata ataupun kelopak mata. Kalazion yang muncul kembali dan tidak biasa dapat menjadi tanda kondisi yang lebih serius (untungnya hal ini jarang terjadi). Orang-orang yang bintitan dapat memiliki risiko terkena kalazion di kemudian hari. Faktor risiko lain penyebab terjadinya kalazion adalah infeksi virus, tuberculosis, kanker kulit, dan diabetes.

Gejala kalazion

Kalazion biasanya muncul sebagai benjolan atau bengkak tidak sakit pada bagian atas atau bawah kelopak mata. Kalazion dapat muncul di kelopak mata atas ataupun bawah dan dapat terjadi pada kedua mata baik bergantian ataupun secara bersamaan. Kalazion dapat menghalangi pandangan ataupun membuat pandangan terlihat kabur, tergantung ukuran dan lokasi kalazion. Walaupun jarang terjadi, kalazion dapat memiliki warna merah, bengkak, dan terasa sakit jika infeksi terjadi.

Dalam banyak kasus pada umumnya, dokter akan mendiagnosa kalazion dengan memperhatikan benjolan pada kelopak mata. Dokter kemudian akan menanyakan gejala-gejala apa saja yang dirasakan untuk menentukan benjolan tersebut merupakan kalazion, bintitan, atau kondisi gangguan kesehatan lain. Beberapa kalazion dapat sembuh dengan sendirinya tanpa membutuhkan perawatan.

Pengobatan dan Pencegahan

Pengobatan alternatif dapat dilakukan untuk mempercepat penyembuhan kalazion. Hal penting pertama yang harus dilakukan adalah jangan pernah memencet kalazion. Bahkan, akan lebih baik apabila Anda jarang menyentuh kalazion. Gunakan kompres hangat pada kelopak mata yang sakit 4 kali sehari masing-masing selama 10 menit. Pastikan Anda selalu mencuci tangan sebelum menyentuh area yang terinfeksi.

Apabila kalazion tidak sembuh dengan pengobatan rumahan, dokter akan merekomendasikan suntikan corticosteroid atau prosedur operasi. Kedua pengobatan medis tersebut merupakan perawatan yang sangat efektif dalam mengatasi kalazion. Pilihan perawatan tergantung pada beberapa jenis faktor yang berbeda. Dokter Anda akan menjelaskan manfaat dan risiko dari kedua cara pengobatan tersebut.

Hampir tidak mungkin untuk mencegah kalazion, terutama apabila Anda rentan terkena masalah mata ini. Namun ada beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk meminimalisir terjadinya kondisi ini, seperti selalu cuci tangan Anda sebelum menyentuh mata, pastikan apapun yang menyentuh daerah mata langsung bersih (seperti lensa kontak atau kacamata), dan apabila Anda memiliki suatu kondisi yang dapat meningkatkan risiko terbentuknya kalazion, ikuti petunjuk yang diberikan dokter untuk membantu mengaturnya.

Read More

Atasi GERD dengan Langkah Mudah di Bawah Ini!

cara mengatasi gerd

Diagnosis GERD secara pasti membutuhkan serangkaian tes yang hanya bisa dilakukan oleh para ahli. Ketika rasa nyeri dan mulas muncul lebih sering dari biasanya, sebaiknya Anda berkonsultasi dengan dokter.

Pemeriksaan dan Tes kesehatan untuk diagnosis GERD

Untuk memberikan pengobatan GERD yang sesuai dengan kondisi Anda, dokter akan melakukan pemeriksaan kesehatan dengan memberikan beberapa pertanyaan awal seperti rekam medis Anda dan daftar makanan yang Anda konsumsi sehari-hari. Bila diagnosa dokter mengatakan bahwa Anda terkena GERD namun masih perlu dipastikan, biasanya pasien wajib melakukan salah satu atau serangkaian tes kesehatan seperti berikut:

  • Tes Ambulatory Acid

Tes ini mengukur kadar asam di dalam perut selama 24 jam dengan cara memasukkan kateter melalui lubang hidung ke kerongkongan. Sebuah alat akan dipasang untuk mengukur level asam yang masuk ke kerongkongan dari perut.

  • X-Ray

Anda akan meminum cairan berwarna putih keruh yang dinamakan barium. Barium in akan mengenai bagian dalam perut, kerongkongan dan usus, sehingga mudah untuk mendeteksi organ-organ ini lewat X Ray.

  • Endoskopi

Sebuah kamera akan dimasukkan melewati mulut dan masuk ke saluran pencernaan untuk melihat apakah ada kerusakan pada saluran tersebut. Jika memang ada, dokter akan menyarankan tes lanjutan dengan mengambil sample jaringan dan melakukan biopsy.

  • Manometry

Tes manometry dapat mengetahui bagaimana asam lambung bergerak menuju ke kerongkongan.

Pengobatan GERD dengan memakai obat bebas

Obat bebas adalah obat-obatan yang dijual di toko obat tanpa resep dokter. Untuk kasus GERD yang ringan, rekomendasi dokter dapat berupa obat-obatan berikut:

  • Antacid

Antacid membantu mengurangi rasa mulas dan biasanya berbentuk cairan atau tablet kunyah.

  • H2 Receptor blockers

Obat ini bekerja lebih lambat dari antacid namun seringkali lebih manjur untuk mengurangi rasa sakit hingga 12 jam lamanya. Obat yang termasuk dalam

  • Proton pump inhibitors

Obat ini memiliki khasiat yang lebih kuat dari H2 receptor blocker karena dapat menyembuhkan luka pada kerongkongan akibat refluks asam lambung. Obat yang mengandung PPI yaitu esomeprayole, omeprayole dan pantoprazole.

Pengobatan GERD dengan resep dokter

Jika obat-obatan yang dijual bebas tidak manjur, maka ini saatnya Anda berkonsultasi dengan dokter. Dokter biasanya memberikan prokinetik yang bisa mengosongkan perut dengan cepat dan menguatkan otot bagian bawah kerongkongan. Namun efek sampingnya bisa berupa diare, lelah dan cemas.

Bila perlu, pengobatan GERD dilakukan dengan kombinasi obat yang dapat menangani gejala dan efek sampingnya.

Perubahan pola hidup

GERD dapat diatasi dengan melakukan perubahan gaya hidup seperti berikut:

  • Berhenti merokok
  • Memiliki berat badan ideal
  • Menghindari makanan pemicu GERD seperti makanan pedas dan berlemak
  • Memakai pakaian yang longgar dan tidak ketat di bagian pinggang
  • Makan dalam porsi yang kecil
  • Tidur dengna posisi kepala lebih tinggi dibandingkan perut

Pengobatan GERD dengan cara alternatif

Terapi GERD berikut dapat Anda lakukan beriringan dengan pengobatan yang dianjurkan oleh dokter

  • Akupuntur

Pengobatan tradisional ini merupakan terapi yang menusukkan jarum pada bagian tubuh Anda untuk mengurangi rasa nyeri akibat GERD

  • Relaksasi

Refluks asam lambung dapat diakibatkan karena stress. Dengan terapi relaksasi, Anda akan merasa tenang dan produksi asam lambung pun berkurang.

Read More

Lakukan gerakan ini saat mengalami cedera IT band!

cedera it band

ITBS (Ilio Tibial Band Syndrome) merupakan risiko cedera yang sangat umum. Cedera yang umumnya ditemui pada pelari, pesepeda, maupun pesepakbola ini ditandai dengan rasa sakit di area tempurung lutut atau paha bagian luar.

Lalu apakah Iliotibial Band(ITB) itu? ITB adalah struktur tebal seperti tendon yang terbentang dari dari samping panggul sampai ke lutut bagian samping luar yang mendukung stabilitas pada lutut. ITB berperan terutama dalam gerakan meluruskan lutut, menggerakkan pinggul ke samping dan menstabilkan tungkai saat gerakan berlari.

Beberapa pemicu terjadinya ITBS adalah kebiasaan buruk dalam latihan atau dikarenakan rendahnya fleksibilits otot paha.

Penelitian menyebutkan ITB bisa menjadi parah ketika terus-terusan mendapat gesekan dari lutut bagian luar dan digunakan untuk aktivitas secara berlebihan. Ada pula pendapat yang menyebutkan bahwa ITB menekan jaringan lunak yang ada dibawah lutut ketika lutut menekuk sekitar 20 sampai 30 derajat. Hal inilah yang menyebabkan bagian tersebut terasa sakit. Situasi ini dapat terjadi ketika Anda berlari di turunan, karena posisi lutut yang tertekuk dan tumit yang menyentuh tanah.

Ketika Anda berlari, otot di area pantat Anda akan bergerak kedalam dan berputar terlalu banyak. Aktivitas ini mengakibatkan area ITB jadi kaku karena ditarik secara terus menerus. Tekanan yang berat akan mengakibatkan cedera sampai pada otot bagian kaki.

Begitu juga saat Anda berlari di jalanan yang datar dan teratur, tubuh Anda akan merasa satu kaki akan lebih pendek dari lainnya. Hal ini membuat titik tumpu pada area pelvis yang terus menerus sehingga mengakibatkan cedera ITB.  Jika Anda tidak istirahat cukup sesudah berlari dalam waktu yang lama (lari marathon misalnya), maka tekanan berulang-ulang bisa membuat cedera lebih parah.

ITBS yang dibiarkan tanpa penanganan akan mengakibatkan rasa sakit yang terus muncul dan berkepanjangan pada lutut dan pinggul. Beberapa cara untuk mengatasinya bisa dengan beristirahat, penggunaan foam roller untuk mengurangi rasa nyeri pada sekitar bagian paha dalam, latihan fisik yang berkonsentrasi pada peningkatan fleksibilitas ITB dan otot-otot gluteus, serta mengonsumsi penghilang rasa sakit jika dibutuhkan. Gejala yang muncul akan berangsur-angsur hilang dalam waktu delapan minggu.

Bagaimana agar tetap bisa bermain

Selain mengecek jarak tempuh yang ada di sepatu Anda dan mengikuti program peregangan, lakukan latihan yang memperkuat bagian otot di bagian pantat ke bawah.

Lakukan latihan fisik di bawah ini selama 2 set dengan hitungan 10 tiap set-nya:

  • One-Legged Squat 

Lakukan halfsquat perlahan sambil memastikan lutut tidak berguling ke dalam dan tidak maju melewati jempol kaki.

  • Side Leg Lift

Berbaringlah ke samping. Angkat kaki bagian atas Anda. Jangan biarkan kaki maju. Tahan selama 3 detik.

  • Clam Shell 

Berbaringlah miring, rapatkan lutut dan pergelangan pada kedua kaki, tekuk paha 45 derajat dan tekuk lutut 90 derajat. Putar kaki bagian atas membentuk lingkaran, tetapi jangan gerakkan pinggul Anda.

  • Get Rolling 

Berbaringlah di atas roller dan gulung ITB dan otot-otot kaki Anda di atas roller untuk memecah jaringan fibrosa. Lakukan selama satu menit

Konsultasikan pada dokter mengenai latihan-latihan yang sedang Anda lakukan, agar proses pemulihan berjalan dengan baik dan tidak terjadi cedera lebih lanjut.

Read More

Para Wanita, Jangan Sepelekan Tes Kesehatan Ini!

cek kesehatan wanita

Melakukan tes kesehatan secara rutin sangat penting untuk wanita. Hal ini penting dilakukan agar beberapa penyakit yang khusus menyerang wanita dapat diwaspadai sejak dini dan dilakukan pencegahan lebih awal. Salah satunya adalah kanker payudara yang mengancam wanita. Seperti pepatah mengatakan, lebih baik mencegah daripada mengobati, bukan? Lakukanlah tes kesehatan secara rutin untuk mencari tanda-tanda awal kanker, penyakit jantung, osteoporosis, dan kondisi lainnya.

Cek Kolesterol dan Tekanan Darah

Kunjungi dokter terkait dan dokter akan memberi tahu Anda seberapa sering Anda perlu melakukan tes ini. Tes kolesterol memang terbilang sederhana. Anda dapat melakukan tes darah untuk mengetahui kadar lemak darah dalam tubuh seperti LDL “kolesterol jahat”, HDL “kolesterol baik” dan juga trigliserida. Jika jumlahnya tidak sesuai dengan yang seharusnya, perubahan dalam diet atau obat Anda dapat membantu mengembalikannya. Tes kesehatan yang satu ini juga baik untuk memeriksa kadar diabetes dalam tubuh yang memiliki kaitan erat dengan penyakit jantung.

Wanita yang mengonsumsi obat penurun kolesterol juga berisiko lebih tinggi terkena diabetes. Seperti diketahui, penyakit jantung dan diabetes adalah beberapa wabah kesehatan terbesar. Sehingga, penting bagi Anda untuk rutin mengecek gula darah Anda. Sama seperti memeriksa kolesterol Anda, dokter akan melakukan tes A1c dengan mengambil sampel kecil darah Anda dan mengirimkannya untuk diperiksa di laboratorium.

Cek Payudara Anda

Mammogram adalah cara penting untuk memeriksa kanker payudara. Mammogram penting untuk dilakukan, karena tindakan pencegahan sejak dini membuat penyakit lebih mudah untuk diobati. Pengecekan ini menggunakan sinar-X untuk membuat gambar bagian dalam payudara Anda.

Periksa dengan dokter Anda tentang seberapa sering Anda harus mendapatkan tes dan pada usia berapa. Ada berbagai rekomendasi dari organisasi kesehatan. American Cancer Society menyerukan mammogram tahunan dimulai pada usia 45, dan setiap 2 tahun pada 55. Satuan Tugas Layanan Pencegahan AS (USPSTF), di sisi lain, mengatakan wanita usia 50 hingga 74 harus memiliki mammogram setiap tahun.

Sebagian besar kelompok kesehatan tidak merekomendasikan pemeriksaan payudara sendiri. Akan tetapi, tidak ada salahnya untuk terbiasa dengan penampilan payudara agar Anda akan menyadari jika ada benjolan atau pertumbuhan baru.

Pengecekan untuk Kanker Serviks

Tes Pap dapat memeriksa sel-sel abnormal di serviks Anda yang bisa berubah menjadi kanker. Ini cara ampuh untuk mencegah penyakit tersebut. Wanita berusia 21 hingga 65 tahun dianjurkan untuk mendapatkan tes kesehatan ini satu kali setiap 3 tahun.

Jika Anda berusia 30 hingga 65 tahun, Anda punya pilihan. Anda dapat terus mendapatkan tes Pap setiap 3 tahun sekali, atau Anda bisa melakukannya dengan tes HPV setiap 5 tahun. Tes lain itu bermanfaat karena sebagian besar kanker serviks disebabkan oleh infeksi HPV (human papillomavirus).

Jika Anda berusia di atas 65 tahun, tanyakan kepada dokter Anda untuk melihat apakah Anda perlu melanjutkan tes Pap dan HPV.

Kolonoskopi

Kanker kolorektal biasanya dimulai dengan pertumbuhan di usus besar Anda yang disebut polip. Salah satu tes kunci yang dapat mendeteksi mereka disebut kolonoskopi.

Dokter Anda akan menggunakan tabung fleksibel dengan kamera kecil di ujungnya untuk memeriksa polip. Dokter biasanya dapat menghapus semua yang dia lihat. Mereka akan dikirim ke laboratorium untuk dicek apakah ada tanda-tanda kanker.

Pemeriksaan Kanker Kulit

Ini adalah kanker paling umum terjadi. Dapatkan pemeriksaan kulit setiap tahunnya dan waspadai tahi lalat yang mungkin telah berubah, atau perbedaan dalam tekstur atau kualitas kulit Anda.

Read More