Category Pemeriksaan

Menilik Fungsi Rontgen dalam Trisula Pengecakan Virus Corona

Pandemi Covid-19 yang disebabkan oleh virus corona jenis baru (SARS-CoV-2) masih melanda seluruh dunia. Per Selasa, 14 April 2020, sudah hampir dua juta orang di 210 negara. Di Indonesia sendiri sudah tekonfirmasi 4500-an kasus, angka ini diyakini masih akan terus bertambah seiring dengan pelaksanaan protokol pemeriksaan yang dilaksanakan oleh pihak terkait. Salah satu pemeriksaannya, jika dibutuhkan, menggunakan prosedur rontgen dada atau thorax.

Namun, prosedur pemeriksaan yang paling mendasar untuk mengetahui terinfeksi atau tidaknya seseorang adalah dengan test swab atau pengambilan sampel cairan tenggorokan atau rongga hidung.

Rontgen dan test swab akan menjadi “trisula” prosedur pemeriksaan Covid-19 yang sudah ditetapkan oleh Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dengan tambahan cek darah. Hal itu disampaikan langsung oleh Agus Susanto selaku ketua perhimpunan tersebut.

Mulanya, seseorang yang sudah terindikasi terpapar virus corona, baik itu melalui riwayat ataupun gejala yang ditunjukkan, akan diwawancarai serta diobservasi untuk menggali kemungkinan-kemungkinan akan itu. Jika dugaan semakin kuat, seseorang itu bakal langsung dilakukan cek darah, rontgen, baru kemudian swab.

Cek darah berdasarkan pemeriksaan laboratorium bertujuan untuk mengetahui fungsi organ, mendeteksi racun, dan kondisi kesehatan secara keseluruhan. Namun, cek darah tidak dapat mengetahui keberadaan virus corona pada tubuh.

  • Fungsi Rontgen dalam Prosedur Pemeriksaan Virus Corona

Rontgen merupakan prosedur tes yang ditujukan untuk mendiagnosis seseorang menggunakan radiasi gelombang elektromagnetik atau sinar-x. Hasil dari rontgen akan menampilkan citra atau gambar bagian dalam, termasuk organ, tubuh seseorang.

Dalam kaitannya dengan pemeriksaan virus corona, rontgen dada atau thorax akan memberikan gambaran kondisi paru-paru dan saluran pernapasan seseorang yang diduga telah terpapar virus penyebab covid-19 tersebut. Pencitraan sinar-x itu memungkinkan dokter mengetahui apakah di paru-paru dan saluran pernapasan orang itu terjadi infeksi atau peradangan atau tidak. Hasil itu akan menentukan langkah dokter dalam mengambil tindakan lanjutan bagi yang bersangkutan.

Akan tetapi, sama seperti cek darah, rontgen dada sama sekali tidak dapat memastikan apakah ia benar-benar telah terinfeksi atau tidak. Sebab, hasil rontgen itu hanya bisa mencitrakan kondisi terkini terkait “sasaran” dari virus corona tersebut.

“Cek darah dan rontgen untuk memastikan apakah ada indikasi infeksi atau radang di saluran pernapasan. Tidak bisa melihat atau menyatakan positif corona,” kata Agus, belum lama ini.

  • Hasil Rontgen Paru-Paru Pasien Positif Corona

Baru-baru ini jagad maya dihebohkan oleh hasil rontgen dada atau thorax pasien positif corona. Hasil pencitraan organ pernapasan itu menunjukkan bahwa SARS-CoV-2 dapat membuat paru-paru dan saluran pernapasan lain “tidak berdaya”. Bahkan, mereka yang mengidap covid-19 cukup parah harus rela paru-parunya rusak lantaran “digerogoti” virus yang sampai saat ini disepakati dibawa oleh kelelawar tersebut.

Jika pada orang normal, paru-paru yang dicitrakan oleh sinar-x akan berwarna gelap, mereka yang paru-parunya dirusak oleh virus corona akan berwarna atau tedapat bercak putih. Biasanya, temuan itu terdapat di sudut-sudut bawah paru-paru. Menurut para tenaga medis terkait, pencitraan itu menunjukkan apa yang disebut ground glass opacity atau pengisian parsial ruang udara.

Hasil pemindaian yang dirilis oleh Radiological Society of North America menunjukkan bagaimana cairan dalam ruang paru-paru pasien corona tersebut menjadi lebih jelas dari waktu ke waktu. Hal itu terbukti ketika membandingkan dari satu gambar ke gambar lainnya yang diambil dalam jangka waktu tertentu.

Dari hasil rontgen tersebut, dokter menjelaskan bahwa sang pasien telah menderita radang paru-paru parah, pneumonia, dan sindrom gangguan pernapasan akut. Apa yang ia derita tak lagi tertangguhkan, beberapa waktu setelah penemuan itu, pasien tersebut menambah daftar korban jiwa yang disebabkan oleh pandemi ini.

Read More

Mengenal Lebih Jauh Pemeriksaan HBA1C

Apakah Anda tahu tentang pemeriksaan HBA1C? Tes HBA1C atau tes hemoglobin A1C adalah tes yang mengukur jumlah hemoglobin di darah yang memiliki glukosa yang menempel di dalamnya. Hemoglobin merupakan sebuah protein yang ditemukan di sel darah merah yang membawa oksigen ke seluruh tubuh. Sel-sel hemoglobin akan terus menerus mati dan beregenerasi dengan masa hidup kurang lebih 3 bulan. Apabila terdapat terlalu banyak glukosa di sel-sel hemoglobin, ini tandanya Anda memiliki A1C yang tinggi. Apabila jumlah glukosa normal, berarti Anda juga akan memiliki A1C yang normal.

Tes kontrol diabetes

Dahulu kala, orang-orang dengan penyakit diaebetes hanya akan mengandalkan tes urin untuk mengukur kadar gula darah. Walaupun tes ini akurat, namun hanya sementara mengingat keterbatasan dalam pengukuran kontrol gula darah. Hal ini disebabkan karena kadar gula darah akan berbeda-beda tergantung dengan waktu, kadar aktivitas seseorang, dan perubahan-perubahan hormonal. Beberapa orang bahkan mungkin akan memiliki kadar gula darah yang tinggi pada pukul 3 pagi tanpa menyadari hal ini. Pada tahun 1980, pemeriksaan HBA1C menjadi tersedia secara umum dan dengan cepat berubah menjadi sebuah alat pengawasan pengaturan diabetes yang penting. Pemeriksaan HBA1C mengukur glukosa darah rata-rata dalam 2 hingga 3 bulan. Sehingga, meskipun Anda memiliki gula darah puasa yang tinggi, gula darah keseluruhan Anda mungkin normal ataupun sebaliknya.

Meskipun demikian, gula darah puasa yang normal bukan berarti Anda tidak akan memiliki risiko diabetes tipe 2. Karena sebab inilah pemeriksaan HBA1C digunakan untuk diagnosa dan pemeriksaan prediabetes dan diabetes. Karena dalam pemeriksaan ini seseorang tidak perlu melakukan puasa sebelum diperiksa, pemeriksaan dapat dilakukan kapan pun.

Pembacaan hasil pemeriksaan HBA1C

Seseorang tanpa penyakit diabetes akan memiliki sekitar 5 persen hemoglobin terglikasi. Kadar A1C normal adalah kurang dari 5.6 persen, menurut Institut Penyakit Diabetes, Pencernaan, dan Ginjal Nasional. Sementara itu, kadar 5.7 hingga 6.4 persen mengindikasikan prediabetes, dan angka kadar A1C 6.5 persen ke atas menunjukkan diabetes. Untuk memantau kontrol glukosa secara keseluruhan, orang-orang dengan diabetes harus mendapatkan pemeriksaan HBA1C setidaknya dua kali dalam setahun. Pengukuran yang lebih sering (setidaknya setiap 3 bulan sekali) perlu dilakukan apabila Anda memiliki penyakit diabetes tipe 1, apabila perawatan sedang disesuaikan, dan apabila Anda ataupun dokter Anda memiliki target gula darah tertentu, ataupun apabila Anda sedang hamil.

Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil pemeriksaan HBA1C

Dulu, berbagai jenis pemeriksaan HBA1C dapat memberikan hasil yang berbeda-beda tergantung laboratorium yang menganalisanya. Namun, sekarang, Program Standarisasi Glycohemoglobin Nasional telah membantu meningkatkan keakurasian dari pemeriksaan jenis ini. Pabrik-pabrik tes A1C harus membuktikan bahwa alat tes mereka memberikan hasil yang konsisten dan sama dengan apa yang digunakan di studi atau penelitian diabetes. Selain itu, alat pemeriksaan rumahan yang akurat juga sekarang sudah tersedia di pasaran.

Namun, keakurasian sangat relatif ketika kita membicarakan pemeriksaan glukosa darah ataupun HBA1C. Hasil pemeriksaan HBA1C dapat setengah persen lebih tinggi ataupun lebih rendah dari persentase sesungguhnya. Hal ini berarti apabila A1C Anda adalah 6, hasil ini mengindikasikan bahwa rentang hasil tes adalah antara 5.5 hingga 6.5. Beberapa orang mungkin akan memiliki hasil pemeriksaan glukosa darah yang mengindikasikan bahwa mereka menderita diabetes namun memiliki A1C yang normal ataupun sebaliknya. Untuk itu, sebelum mengkonfirmasi diagnosa diabetes, dokter harus melakukan pemeriksaan HBA1C beberapa kali. Namun, hal ini tentunya tidak perlu dilakukan terutama apabila gejala diabetes sudah terlihat, seperti rasa haus yang meningkat, sering buang air kecil, dan turunnya berat badan.

Read More